DUBLIN - Kematian Yves Sakila, pria kulit hitam asal Kongo yang menjadi warga negara Irlandia, memicu kemarahan publik. Ia tewas setelah diamankan petugas keamanan mal di pusat kota Dublin pada 15 Mei lalu.
Video amatir memperlihatkan petugas keamanan toko Arnotts menekan lutut ke leher Sakila selama lebih dari empat menit. Peristiwa ini langsung disebut sebagai 'momen George Floyd'-nya Irlandia, merujuk pada kasus pembunuhan pria kulit hitam oleh polisi di Minneapolis, AS, pada 2020 yang memicu protes anti-rasisme global.
Korban diduga mencuri di toko dan secara tidak sengaja menjatuhkan seorang pria saat kabur. Polisi yang datang kemudian memborgolnya. Meski sempat dilarikan ke rumah sakit, Sakila dinyatakan meninggal di Mater Hospital Dublin.
Kasus ini membuka luka lama tentang rasisme yang selama ini dianggap 'tidak ada' di Irlandia. Emer O'Neill, aktivis kulit hitam Irlandia, mengaku dalam dua pekan terakhir ia tiga kali mendapat perlakuan rasis, mulai dari disuruh pulang ke negara asal hingga dipanggil dengan sebutan n-word. 'Saya tidak punya negara lain. Ini negara saya,' tegasnya.
Analisis: Kematian Sakila menjadi cermin bagi Irlandia yang bangga dengan semangat antikolonialismenya. Media lokal mencatat, sebelum insiden ini, mantan Perdana Menteri Bertie Ahern juga terekam mengatakan, 'Kita tidak bisa terus menerima orang dari Kongo dan tempat-tempat seperti itu.' Hal ini menunjukkan bahwa rasisme sistemik sudah mengakar di kalangan elit politik, dan kematian Sakila bisa menjadi titik balik bagi gerakan kesetaraan ras di Irlandia.