TEKANAN TRUMP KE THE FED BISA PICU INFLASI AS? - Berita Dunia
← Kembali

TEKANAN TRUMP KE THE FED BISA PICU INFLASI AS?

Foto Berita

WASHINGTON DC – Sekretaris Keuangan AS, Scott Bessent, baru-baru ini menghadapi 'serangan' pertanyaan sengit dari Senat Amerika Serikat. Di tengah desakan Presiden Donald Trump untuk memangkas suku bunga secara drastis, Bessent justru harus menjawab kekhawatiran para senator terkait potensi inflasi yang bisa memukul ekonomi Negeri Paman Sam.

Dalam sidang Dewan Pengawasan Stabilitas Keuangan Senat pada Kamis lalu, Bessent dicecar habis oleh Senator Demokrat, terutama Elizabeth Warren. Para senator cemas terhadap kenaikan harga konsumen dan upaya Trump yang dianggap mencoba mengintervensi The Federal Reserve (The Fed), bank sentral AS.

Salah satu momen panas terjadi ketika Warren menanyakan laporan The Wall Street Journal tentang lelucon Trump yang ingin menuntut calon kepala The Fed pilihannya, Kevin Warsh, jika tak menuruti kemauannya. 'Pak Sekretaris, bisakah Anda berkomitmen di sini dan sekarang bahwa calon Ketua Fed pilihan Trump, Kevin Warsh, tidak akan digugat, tidak akan diselidiki oleh Departemen Kehakiman, jika ia tidak memangkas suku bunga persis seperti yang diinginkan Donald Trump?' tanya Warren.

Bessent sendiri tidak bisa memberikan jaminan. Ia hanya menjawab singkat, 'Itu terserah presiden.' Pekan lalu, Trump memang mengumumkan Warsh sebagai pilihannya untuk menggantikan Ketua The Fed saat ini, Jerome Powell, yang kerap dikritik Trump karena dianggap terlalu lambat menurunkan suku bunga.

Trump berulang kali menuntut agar suku bunga dipangkas serendah mungkin, secepat mungkin. Bahkan, ia pernah menyatakan ingin melihat suku bunga di level 'satu persen dan mungkin lebih rendah lagi' pada Desember lalu. Saat ini, suku bunga federal AS berada di angka sekitar 3,6 persen.

Para ahli ekonomi memperingatkan, penurunan suku bunga secara tiba-tiba bisa memicu lonjakan pasar jangka pendek karena pinjaman jadi lebih murah dan uang beredar deras di ekonomi. Namun, kelebihan likuiditas ini justru berisiko menurunkan nilai dolar dan menyebabkan kenaikan harga alias inflasi dalam jangka panjang.

Secara tradisional, The Fed adalah lembaga independen yang seharusnya membuat keputusan moneter tanpa campur tangan atau tekanan politik. Namun, Trump, politikus Republik, gencar berupaya mengendalikan The Fed. Para pengkritiknya menuduh Trump menggunakan ancaman tindakan hukum untuk menekan anggota The Fed agar menuruti keinginannya.

Contohnya, pada Agustus lalu, Trump sempat berupaya memecat Gubernur The Fed Lisa Cook, yang diangkat oleh Joe Biden, dengan tuduhan penipuan hipotek, tuduhan yang dibantah Cook. Cook sendiri menuduh Trump ingin memecatnya karena alasan politik. Kasus ini kini tengah disidangkan di Mahkamah Agung.

Tak hanya itu, awal Januari ini, Departemen Kehakiman membuka penyelidikan kriminal terhadap Powell, menggemakan tuduhan Trump sebelumnya yang mengklaim Powell salah mengelola renovasi gedung Federal. Rentetan kejadian ini menunjukkan pola intervensi politik yang berpotensi membahayakan kredibilitas dan stabilitas ekonomi AS secara keseluruhan.

Apabila independensi The Fed terus digerogoti dan keputusan moneter didikte oleh kepentingan politik, masyarakat luas lah yang akan menanggung dampaknya. Nilai tabungan bisa tergerus inflasi, daya beli menurun, dan ketidakpastian ekonomi berpotensi merajalela, mengancam stabilitas finansial jutaan warga Amerika.


Bagikan berita ini:

WhatsApp Facebook