DAKAR, SENEGAL – Presiden Senegal Bassirou Diomaye Faye akhirnya mengumumkan susunan kabinet baru pada Senin (2/4) waktu setempat. Langkah ini diambil kurang dari dua pekan setelah ia memecat Perdana Menteri Ousmane Sonko, yang juga merupakan mantan mentornya sendiri.
Yang menarik, beberapa anggota dan sekutu partai Sonko, yaitu Partai Pastef, justru masuk dalam daftar menteri baru. Namun, Sonko dengan tegas menyatakan partainya tidak akan bergabung dengan pemerintahan ini. "Kami tidak akan berpartisipasi dalam pemerintahan berikutnya dan tidak akan diwakili oleh menteri mana pun," tulis Sonko di akun media sosialnya.
Krisis politik ini semakin dalam setelah Sonko, yang masih menjadi figur populer, terpilih sebagai Ketua Parlemen. Padahal, partainya menguasai 130 dari 165 kursi di parlemen. Kekuasaan legislatif yang besar ini membuat posisi Presiden Faye cukup rumit.
Untuk posisi perdana menteri yang baru, Faye menunjuk Ahmadou Al Aminou Mohamed Lo, seorang ekonom senior. Tugas utamanya jelas: menyelamatkan ekonomi Senegal yang terlilit utang. "Beliau memiliki keahlian untuk membawa Senegal keluar dari krisis," ujar Faye dalam pidato yang disiarkan langsung di televisi.
Analisis Dampak: Situasi ini menunjukkan perpecahan serius di pucuk pimpinan Senegal. Sonko, yang seharusnya menjadi 'tokoh nomor dua', kini berseberangan dengan presiden yang pernah ia dukung. Jika parlemen yang dikuasai Sonko terus menghalangi kebijakan presiden, maka pemerintahan baru ini berpotensi lumpuh. Di sisi lain, langkah Faye yang memilih teknokrat sebagai perdana menteri menunjukkan ia ingin fokus pada pemulihan ekonomi dan negosiasi dengan IMF, sesuatu yang selama ini ditentang oleh Sonko yang lebih mengusung pendekatan berdaulat.