Situasi di Timur Tengah kian memanas setelah Iran terus-menerus digempur serangan dari Amerika Serikat dan Israel. Serangan yang tak kunjung berhenti ini telah merenggut nyawa pejabat senior Iran, dengan ribuan serangan udara tercatat di berbagai penjuru negeri. Tidak tinggal diam, Iran membalas dengan melancarkan serangan ke Israel serta beberapa negara tetangga di Teluk. Target utama balasan Iran ini adalah fasilitas energi vital dan jalur-jalur pasokan penting.
Eskalasi konflik ini jelas menimbulkan pertanyaan besar: langkah apa yang akan diambil Iran selanjutnya untuk menghadapi tekanan bertubi-tubi ini? Para analis militer dan politik seperti Elijah Magnier, Setareh Sadeqi, serta Mehran Kamrava, ramai memperdebatkan opsi-opsi yang dimiliki Teheran.
Dampak dari memanasnya tensi ini bukan sekadar urusan internal kawasan. Penargetan fasilitas energi dan rute pasokan berpotensi mengguncang stabilitas pasar energi global, mengingat pentingnya Timur Tengah sebagai pemasok utama. Jika eskalasi terus berlanjut, bukan tidak mungkin kita akan menyaksikan gejolak harga minyak dunia dan ketidakpastian ekonomi yang lebih luas. Selain itu, korban jiwa dan kerusakan infrastruktur yang tak terelakkan akan memperparah krisis kemanusiaan dan geopolitik di salah satu kawasan paling bergejolak di dunia.