Jakarta, Media Online – Wabah Ebola kembali mengguncang Afrika Timur. Penyakit mematikan yang disebabkan oleh virus langka Bundibugyo ini kini tak hanya melanda Republik Demokratik Kongo (DRC), tapi sudah menyebar ke Uganda, bahkan mencapai ibu kota Kampala. Para ahli memperingatkan bahwa laju penyebaran virus ini lebih cepat dari upaya penanganan.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat setidaknya 321 kasus terkonfirmasi di DRC hingga awal Juni, dengan 48 kematian. Sementara di Uganda, total kasus mencapai 15 orang, termasuk satu kematian. Situasi diperparah oleh konflik bersenjata di provinsi Ituri, DRC, yang membuat petugas kesehatan kesulitan menjangkau pasien.
Yang paling mengkhawatirkan, hingga saat ini belum ada vaksin yang disetujui secara resmi untuk strain Bundibugyo ini. Meski tiga kandidat vaksin tengah dipercepat uji coba, para ahli menilai prospek pengendalian wabah masih suram. Kurangnya alat pelindung diri (APD) bagi tenaga medis dan pemotongan dana bantuan asing, termasuk dari Amerika Serikat, semakin memperlemah respons darurat.
Menurut Doctors Without Borders (MSF), situasi ini mengingatkan pada wabah Ebola terbesar di Afrika Barat pada 2014-2016 yang menewaskan lebih dari 11.000 orang. Jika tidak segera dikendalikan, para pakar khawatir wabah saat ini bisa mencapai skala yang sama.
Analisis: Kabar ini menjadi pengingat bahwa ancaman pandemi belum usai. Bagi Indonesia, wabah di Afrika Timur harus diantisipasi dengan memperketat pengawasan di pintu masuk internasional. Meski risiko penularan langsung rendah, kelambanan global dalam merespons wabah bisa memicu krisis kesehatan yang lebih luas, termasuk potensi kelangkaan vaksin dan obat-obatan di masa depan.