Api kembali membara di depot minyak vital Fujairah, Uni Emirat Arab, menyusul serangan drone Iran. Insiden terbaru ini menjadi bukti nyata makin panasnya suhu di Teluk Arab, di mana pangkalan militer AS dan fasilitas sipil kini menjadi sasaran empuk dalam konflik panjang yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran.
Kantor media pemerintah Fujairah menyatakan tidak ada korban jiwa dalam insiden kebakaran di Zona Industri Minyak Fujairah yang berjarak sekitar 150 km dari Dubai ini. Namun, eskalasi konflik regional telah memakan korban, seorang warga Pakistan tewas di Bani Yas, Abu Dhabi, setelah tertimpa puing rudal yang berhasil diintersep sistem pertahanan udara UEA.
Kementerian Pertahanan UEA juga melaporkan keberhasilan menangkis rudal dan drone Iran, yang menyebabkan suara ledakan keras dan penutupan sementara wilayah udara. Iran berdalih serangan-serangan ini wajar lantaran keberadaan pangkalan militer AS di negara-negara Teluk, khususnya setelah AS dan Israel melancarkan serangan udara gabungan ke Teheran pada 28 Februari lalu. Namun, kenyataannya, fasilitas sipil seperti bandara, pelabuhan, dan fasilitas minyak di seluruh Teluk turut menjadi sasaran.
UEA, yang menormalisasi hubungan dengan Israel pada 2020, menjadi negara yang paling parah dihantam, dengan lebih dari 1.800 serangan rudal dan drone dari Iran. Tak hanya UEA, Qatar, Arab Saudi, dan Kuwait juga melaporkan insiden serupa. Qatar mencatat kebakaran kecil di area industri dan ledakan yang terdengar oleh warga di Doha. Sementara itu, Arab Saudi berhasil mencegat sejumlah drone di wilayah timur negaranya, dan Kuwait mengumumkan keberhasilan pencegatan dua drone.
Dewan Kerja Sama Teluk (GCC) secara tegas mengutuk 'serangan Iran yang berdosa' ini, menekankan ancaman serius terhadap stabilitas regional dan keselamatan warga. Dampaknya meluas, tak hanya menciptakan ketakutan di masyarakat, tetapi juga berpotensi mengganggu pasokan minyak global dan stabilitas ekonomi di kawasan strategis ini.