Dunia menyaksikan langsung bagaimana Donald Trump mengubah arah kebijakan luar negeri AS, terutama dalam menghadapi negara-negara yang dianggap mengancam seperti Iran. Jika sebelumnya banyak yang memprediksi pendekatannya akan menimbulkan kekacauan dan perang tak berkesudahan, faktanya, strategi "pukul cepat dan keras" ala Trump justru diklaim membawa kemenangan militer yang cepat dan tegas.
Berbeda dengan era sebelumnya yang cenderung "menahan diri" atau "sabar secara strategis" — yang justru membuat lawan semakin berani — Trump memilih jalur berbeda. Ia tak percaya negosiasi panjang atau pernyataan diplomatik yang hati-hati bisa menghentikan rezim yang hanya tunduk pada kekuatan. Baginya, itu bukan kenekatan, melainkan kejelasan sikap.
Alih-alih terseret dalam perang konvensional berpuluh tahun seperti yang terjadi di Irak atau Afghanistan, Trump menawarkan formula sederhana: serang keras, serang cepat, dan perjelas bahwa AS tak akan menyerah pada ancaman. Ia memahami bahwa kekuatan Amerika bukan untuk membangun negara baru, melainkan untuk melenyapkan ancaman yang ada.
Kemenangan di mata Trump sangat pragmatis. Jika kepemimpinan militer musuh melemah, kemampuan mereka mengancam pasukan dan sekutu AS berkurang, serta ambisi nuklir mereka terhambat signifikan, maka misi dianggap sukses. Setelah itu, perang harus segera diakhiri. Dan saat kemenangan itu tiba, Trump tak akan menyatakannya diam-diam. Ia akan mengumumkannya lantang: Amerika menyerang, Amerika menang, dan semua itu terjadi tanpa perang tanpa ujung.
Meskipun bagi pendukungnya strategi ini adalah bukti ketegasan dan efisiensi, pendekatan ini tak luput dari kritik. Banyak pengamat mengkhawatirkan risiko eskalasi konflik tak terduga atau kurangnya solusi jangka panjang yang dihasilkan dari strategi yang terlalu fokus pada kekuatan militer ini. Namun, dari kacamata pendukungnya, waktu dan momentum adalah kunci, dan Trump dinilai menguasai seni ini lebih baik dari para pendahulunya.