Kondisi politik di Georgia, Amerika Serikat, tengah memanas. Para pemilih di dua daerah basis pendukung Partai Demokrat berpotensi terkejut saat mengetahui wakil mereka di parlemen adalah Marjorie Taylor Greene, politisi kontroversial pendukung QAnon dan garis keras pendukung Donald Trump. Situasi ini muncul akibat penataan ulang peta daerah pemilihan yang dilakukan oleh legislator Partai Republik, sebuah langkah yang sengaja dirancang untuk memaksimalkan pengaruh partai mereka.
Perubahan ini bukan sekadar pergantian wakil. Ini adalah pukulan telak bagi pemilih yang tidak sepaham, terutama kelompok minoritas yang secara tidak proporsional akan merasakan dampaknya. Pasalnya, redistricting atau penataan ulang batas daerah pemilihan merupakan salah satu isu krusial yang jadi agenda utama Georgia Youth Justice Coalition (GYJC).
GYJC adalah sebuah organisasi yang digerakkan oleh anak-anak muda berusia 14-23 tahun. Mereka mengumpulkan pemuda-pemudi untuk peduli pada isu-isu politik, mulai dari pendidikan publik, krisis iklim, hak aborsi, hingga hak memilih. Tak hanya itu, GYJC juga membekali mereka pengetahuan tentang proses legislatif agar bisa terlibat langsung.
Yana Batra, seorang pengurus GYJC yang baru lulus SMA, berbagi pandangan tentang upaya koalisi ini membawa lebih banyak orang ke kancah politik, dan apa artinya bagi masa depan Georgia.
"Redistricting itu terjadi setiap 10 tahun, dan secara harfiah mempengaruhi setiap isu yang mungkin dipedulikan anak muda," ujar Batra. Ia menyebutnya sebagai "isu leher botol."
Sebagai contoh, Batra menyebut kampusnya nanti, Georgia Tech, yang merupakan perguruan tinggi terbesar ketiga di negara bagian itu. Kampus ini terbagi antara dua distrik Senat negara bagian, yaitu distrik 36 dan 39. Pembagian ini menyebabkan sebagian kampus memilih di lokasi yang berbeda-beda. Dampaknya, anggota komunitas tidak bisa secara efektif melobi legislator mereka untuk memenuhi kebutuhan, misalnya terkait transportasi atau perumahan.
Hal serupa juga terjadi pada berbagai komunitas minoritas lainnya. Tanpa representasi yang utuh dan berkelanjutan, komunitas-komunitas ini kehilangan kemampuan untuk menyuarakan kepentingan mereka dengan kuat.
Meskipun penting, mengorganisir anak muda seputar isu redistricting bukanlah hal mudah. Konsepnya abstrak dan jarang menjadi perbincangan. Oleh karena itu, GYJC punya dua strategi utama. Pertama, bagaimana menarik perhatian media untuk menekan para wakil rakyat agar menggambar peta yang adil. Kedua, bagaimana mengorganisir anak muda yang mungkin belum begitu paham apa itu redistricting dan bagaimana prosesnya berjalan. Taktik utama mereka adalah mengajak anak-anak muda untuk bersaksi langsung di hadapan legislator negara bagian.