Stadion Santiago Bernabeu kembali jadi sorotan, bukan karena gemuruh gol, melainkan aksi rasisme yang mencoreng dunia sepak bola. Seorang anggota klub Real Madrid tertangkap kamera melakukan gestur salam Nazi dalam laga playoff Liga Champions kontra Benfica. Insiden ini menambah panjang daftar kasus rasisme yang menargetkan bintang muda Vinicius Junior, yang sebelumnya diduga dilecehkan secara rasial oleh pemain Benfica.
Menanggapi kejadian memalukan itu, manajemen Real Madrid langsung bertindak cepat. Mereka menyatakan telah mengusir anggota tersebut dari stadion dan secara 'mendesak' meminta komite disipliner klub memulai proses pemecatan segera. 'Real Madrid mengutuk keras gestur dan ekspresi semacam ini yang memicu kekerasan serta kebencian dalam olahraga dan masyarakat,' tegas klub dalam pernyataannya.
Insiden ini terjadi setelah leg pertama pekan lalu, di mana Vinicius Junior diduga menjadi korban pelecehan rasial dari pemain Benfica, Gianluca Prestianni. Prestianni sendiri membantah tuduhan itu, namun ia sudah diskors sementara oleh UEFA dan bandingnya ditolak. Hal ini menunjukkan komitmen UEFA dalam memerangi rasisme, meskipun implementasinya kerap menghadapi tantangan.
Pentingnya isu ini bahkan mengalahkan hasil pertandingan. Gelandang Madrid, Aurelien Tchouameni, menyebut kemenangan 2-1 timnya atas Benfica sebagai 'kemenangan bagi siapa pun yang menentang rasisme'. Vinicius, yang mencetak gol kedua Madrid, mengunggah pesan 'the dance continues' di media sosial, diiringi foto spanduk besar 'no to racism' di Bernabeu. Pelatih Real Madrid, Alvaro Arbeloa, tak bisa menyembunyikan kebahagiaannya atas gol Vinicius, seraya menambahkan bahwa striker andalan Kylian Mbappe harus absen sementara waktu untuk memulihkan cedera lututnya.
Kasus rasisme yang terus berulang, terutama yang menimpa Vinicius Junior, menunjukkan bahwa masalah ini bukan sekadar insiden terisolasi, melainkan tantangan serius yang masih mengakar dalam sepak bola. Tindakan tegas dari klub dan federasi memang krusial, namun kesadaran dan edukasi yang lebih luas di kalangan suporter dan pelaku olahraga juga menjadi kunci untuk menciptakan lingkungan sepak bola yang bebas dari diskriminasi.