Mantan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, baru-baru ini menggelar pertemuan dengan Presiden Honduras yang baru, Nasry Asfura, di resor mewah Mar-a-Lago, Florida. Pertemuan ini berlangsung tak lama setelah Asfura, yang akrab disapa 'Tito', resmi menjabat pekan lalu usai memenangkan pemilihan yang sengit. Trump memuji Asfura sebagai 'teman' dan mengklaim aliansi keamanan AS-Honduras kini semakin kokoh, terutama dalam memerangi perdagangan narkoba dan mengatasi migrasi ilegal.
Dalam kesempatan itu, Trump tak segan-segan mengklaim bahwa dukungannya yang kuat selama kampanye menjadi kunci kemenangan Asfura. Menurutnya, mereka berdua punya banyak kesamaan nilai, termasuk semangat 'America First'. Hubungan antara kedua negara bukan hanya soal keamanan. Sebelumnya, Asfura juga sudah bertemu dengan Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio, di mana mereka membahas rencana kesepakatan perdagangan bebas, membuka dimensi baru dalam kerja sama bilateral.
Namun, ada satu langkah Trump yang memicu kontroversi. Tepat sebelum pemilihan di Honduras, ia memberikan grasi kepada mantan Presiden Honduras Juan Orlando Hernandez, yang kebetulan berasal dari partai yang sama dengan Asfura. Hernandez sendiri tengah mendekam di penjara AS selama 45 tahun atas kasus perdagangan narkoba. Keputusan ini, yang banyak diinterpretasikan sebagai gestur solidaritas terhadap partai Asfura, langsung menuai kritik tajam.
Ironisnya, grasi ini datang dari pemerintahan yang sebelumnya sangat gencar memerangi narkoba, bahkan sampai melakukan pengeboman kapal-kapal yang dicurigai terlibat dan menuduh Presiden Venezuela Nicolas Maduro sebagai gembong narkoba. Inkonsistensi ini memunculkan pertanyaan serius tentang komitmen AS terhadap perang melawan narkoba, terutama ketika melibatkan sekutu politik. Naiknya Asfura ke tampuk kekuasaan juga menambah daftar panjang pemimpin konservatif di Amerika Latin, seiring pergeseran politik di beberapa negara lain. Ini memperlihatkan tren politik yang menarik di kawasan tersebut, di mana Asfura kini menempatkan Honduras sebagai pemain kunci dalam aliansi konservatif yang tengah berkembang.