PEMIMPIN IRAN TEWAS: KLAIM SERANGAN, DUKA DAN PESTA MENGGUNCANG - Berita Dunia
← Kembali

PEMIMPIN IRAN TEWAS: KLAIM SERANGAN, DUKA DAN PESTA MENGGUNCANG

Foto Berita

Dunia dikejutkan dengan berita meninggalnya Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, yang diklaim media pemerintah Iran akibat serangan Amerika Serikat dan Israel. Tragedi ini bukan hanya merenggut nyawa sosok paling berpengaruh di negara itu, tetapi juga mengorbankan putri, menantu, cucu, serta sejumlah pejabat keamanan senior dalam serangan yang terjadi pada hari Sabtu.

Kematian Khamenei disebut-sebut sebagai pukulan terbesar bagi kepemimpinan Iran sejak Revolusi Islam pada 1979. Menanggapi kabar duka ini, Presiden Masoud Pezeshkian segera mengutuk keras insiden tersebut sebagai 'kejahatan besar'. Ia juga mengumumkan masa berkabung nasional selama 40 hari, ditambah dengan libur nasional tujuh hari untuk menghormati sang pemimpin.

Reaksi publik Iran pun beragam. Di ibu kota Teheran, ribuan warga membanjiri jalanan untuk mengungkapkan duka cita mendalam, dengan sejumlah laporan menunjukkan kesedihan yang meluap-luas di berbagai upacara. Protes mengecam pembunuhan ini juga dilaporkan terjadi di Shiraz, Yasuj, dan Lorestan, serta di kompleks makam Imam Reza di Mashhad, di mana para pelayat terlihat menangis histeris.

Gelombang protes dan duka tak hanya terjadi di Iran. Negara tetangga Irak pun mendeklarasikan tiga hari masa berkabung. Di Baghdad, para demonstran bentrok dengan aparat keamanan di Zona Hijau yang dijaga ketat, bahkan ada upaya untuk bergerak menuju Kedutaan Besar AS. Sementara itu, di Karachi, Pakistan, kantor Konsulat AS menjadi sasaran amuk massa yang membakar dan memecahkan kaca jendela.

Namun, di balik suasana duka dan kemarahan, muncul laporan kontras dari kantor berita Reuters yang menyebutkan adanya perayaan di sejumlah kota di Iran, seperti Teheran, Karaj, dan Isfahan, mengindikasikan adanya perpecahan opini di masyarakat Iran.

Terkait suksesi kepemimpinan, kantor berita resmi IRNA melaporkan bahwa dewan beranggotakan tiga orang – terdiri dari Presiden, Kepala Kehakiman, dan salah satu ahli hukum Dewan Penjaga – akan mengambil alih sementara seluruh tugas kepemimpinan negara. Dewan ini akan mengawasi Iran hingga Pemimpin Tertinggi yang baru terpilih secara resmi. Khamenei sendiri mengambil alih kepemimpinan Iran pada 1989, melanjutkan jejak Ayatollah Ruhollah Khomeini yang memimpin Revolusi Islam satu dekade sebelumnya.

Insiden ini berpotensi memanaskan tensi geopolitik di Timur Tengah dan memicu pertanyaan besar mengenai arah masa depan Iran di tengah transisi kepemimpinan yang krusial. Dunia kini menanti bagaimana Iran akan merespons kejadian ini, serta siapa yang akan muncul sebagai penerus tahta kepemimpinan spiritual dan politik negara tersebut.


Bagikan berita ini:

WhatsApp Facebook