Setelah belasan tahun berlalu, keadilan bagi para korban serangan di Benghazi, Libya, pada 2012 silam mulai menemui titik terang. Jaksa Agung Amerika Serikat, Pam Bondi, mengumumkan penangkapan Zubayr al-Bakoush, yang disebut sebagai "peserta kunci" dalam insiden tragis yang menewaskan empat warga Amerika, termasuk Duta Besar AS Christopher Stevens.
Al-Bakoush kini telah diekstradisi ke Amerika Serikat dan akan menghadapi dakwaan serius. Ia dituduh melakukan pembunuhan, pembakaran, dan serangkaian tuduhan terkait terorisme. Bondi menegaskan, “Kami tak pernah melupakan para pahlawan itu dan tak akan berhenti mencari keadilan atas kejahatan yang menimpa bangsa kami.” Ia juga menambahkan, “Biarkan kasus ini menjadi pengingat: Jika Anda melakukan kejahatan terhadap rakyat Amerika di mana pun di dunia ini, Departemen Kehakiman Presiden [Donald] Trump akan menemukan Anda.”
Serangan pada 11 September 2012 itu merupakan insiden berdarah di kompleks diplomatik AS dan aneks CIA Benghazi. Selain Dubes Stevens, pegawai Departemen Luar Negeri Sean Smith juga tewas akibat serangan tersebut. Al-Bakoush didakwa atas pembunuhan keduanya, serta percobaan pembunuhan terhadap seorang agen khusus Departemen Luar Negeri. Dua personel pemerintah AS lainnya, Tyrone Woods dan Glen Doherty, juga gugur dalam insiden itu, meskipun al-Bakoush tidak didakwa atas kematian mereka.
Insiden ini terjadi di tengah gejolak hebat di Libya pasca-jatuhnya Muammar Gaddafi pada 2011, yang didahului oleh operasi NATO pimpinan AS yang menggoyahkan pemerintahan Gaddafi. Ini bukan penangkapan pertama terkait kasus Benghazi. Sebelumnya, Ahmed Abu Khatallah telah divonis 28 tahun penjara pada 2014, dan warga Libya Mustafa al-Imam juga dihukum pada 2020 atas perannya dalam serangan tersebut.
Dampak dari serangan Benghazi ini meluas hingga ke Washington, memicu serangkaian penyelidikan kongres atas kelalaian keamanan di sekitar insiden tersebut. Bahkan, mantan Menteri Luar Negeri AS Hillary Clinton turut menjadi sorotan. Meskipun Clinton pada 2015 menyatakan bertanggung jawab atas kematian warganya, ia membantah keras telah mengetahui permintaan penambahan keamanan di kompleks tersebut. Penangkapan al-Bakoush ini sekali lagi menunjukkan komitmen kuat AS untuk mengejar para pelaku teror, tak peduli berapa lama waktu berlalu, mengirimkan pesan bahwa keadilan akan tetap dicari.