Angkatan Laut Prancis sukses mencegat sebuah kapal tanker minyak di Laut Mediterania yang diduga kuat bagian dari 'armada bayangan' Rusia. Kapal bernama Grinch itu dicurigai berlayar dengan 'bendera palsu' untuk mengakali sanksi internasional yang diterapkan pada Rusia.
Presiden Prancis Emmanuel Macron mengumumkan operasi ini lewat media sosial pada Kamis lalu. Ia menegaskan, kapal tanker yang datang dari Rusia tersebut menjadi subjek sanksi internasional. Macron menambahkan, operasi yang didukung beberapa sekutu, termasuk Inggris yang membantu pelacakan, ini dijalankan di laut lepas dan sesuai Konvensi PBB tentang Hukum Laut. Kapal kini dialihkan dan penyelidikan pun dimulai.
Aksi ini menjadi penekanan serius dari Uni Eropa terhadap Rusia, menyusul belasan paket sanksi yang dijatuhkan pasca invasi skala penuh Rusia ke Ukraina pada 2022. Meskipun demikian, Moskow diketahui masih menjual jutaan barel minyak ke negara-negara seperti Tiongkok dan India, seringkali dengan harga diskon, sebagian besar diangkut oleh 'armada bayangan' yang beroperasi di luar industri maritim Barat.
Laporan dari Centre for Research on Energy and Clean Air di Helsinki bahkan pernah mengungkap, puluhan kapal Rusia telah menggunakan bendera palsu dalam periode tertentu, mengangkut jutaan ton minyak senilai miliaran euro.
Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy langsung menyampaikan apresiasinya kepada Macron. Menurutnya, tindakan tegas seperti inilah yang dibutuhkan agar minyak Rusia tidak lagi bisa membiayai perang. Zelenskyy juga mendesak agar kapal tanker Rusia yang beroperasi di dekat perairan Eropa harus dihentikan.
Menanggapi insiden ini, Kedutaan Besar Rusia di Prancis mengaku belum mendapat pemberitahuan resmi dan kini tengah mencari tahu apakah ada warga negara Rusia di antara kru kapal untuk memberikan bantuan hukum yang diperlukan. Kejadian ini tak hanya menunjukkan keseriusan Barat dalam menegakkan sanksi, tetapi juga menyoroti celah 'armada bayangan' yang selama ini menjadi tantangan besar dalam upaya menekan ekonomi Rusia.