Rencana besar Wimbledon untuk memperluas area turnamen tenis paling bergengsi di dunia itu kembali masuk meja hijau. Para pegiat lingkungan dan masyarakat kini berupaya keras memblokir proyek pembangunan yang digagas penyelenggara turnamen.
All England Lawn Tennis and Croquet Club (AELTC), pengelola turnamen, berniat melipatgandakan ukuran situs utama mereka di London. Proyek senilai £200 juta (sekitar Rp 4 triliun) ini akan menghadirkan 39 lapangan tenis baru, di atas lahan bekas lapangan golf yang telah mereka beli.
Rencana ini mendapat dukungan dari sejumlah pemain top dan sebagian warga. Namun, kelompok pegiat 'Save Wimbledon Park' mengajukan gugatan hukum. Mereka berargumen bahwa lahan tersebut terikat kepercayaan undang-undang, yang berarti harus tetap diperuntukkan bagi rekreasi publik.
AELTC sendiri kini tengah mencari putusan dari Pengadilan Tinggi London yang menyatakan lahan tersebut tidak terikat kepercayaan semacam itu. Pengacara AELTC menegaskan bahwa lahan tersebut tidak pernah digunakan untuk rekreasi publik. Ini bukan kali pertama proyek ekspansi ini berhadapan dengan hukum; tahun lalu, gugatan serupa sempat diajukan terkait izin perencanaan, meskipun akhirnya ditolak. Namun, kelompok Save Wimbledon Park kini mendapat izin untuk mengajukan banding atas putusan tersebut.
Puluhan pendukung Save Wimbledon Park pun tampak berkumpul di luar pengadilan sebelum sidang Jumat lalu, menyuarakan penolakan mereka terhadap ekspansi besar Wimbledon.