Tiga jet tempur canggih Amerika Serikat jenis F-15E Strike Eagle dilaporkan 'salah tembak' dan jatuh di wilayah udara Kuwait. Insiden mengejutkan ini terjadi di tengah operasi militer gabungan AS dan Israel yang sedang gencar-gencarnya menyerang Iran.
Pusat Komando AS (CENTCOM) membenarkan bahwa pesawat-pesawat itu ditembak jatuh oleh sistem pertahanan udara Kuwait 'secara tak sengaja' saat operasi tempur aktif berlangsung pada Senin pagi waktu setempat. Meski demikian, ada kabar baik: keenam awak jet berhasil melontarkan diri dengan selamat dan kini dalam kondisi stabil setelah diselamatkan oleh warga lokal.
Kementerian Pertahanan Kuwait juga mengonfirmasi kejadian ini dan menyatakan sedang berkoordinasi dengan militer AS untuk menyelidiki penyebab pastinya. Insiden ini diwarnai laporan suara ledakan keras dan sirine yang terdengar di Kuwait City. Saksi mata juga melihat kepulan asap membumbung di dekat Kedutaan Besar AS, bersamaan dengan intersepsi drone-drone tak dikenal di sekitar ibu kota.
Peristiwa 'salah tembak' ini tentu jadi sorotan serius, mengingat Kuwait adalah sekutu penting AS dan menjadi pangkalan strategis di tengah eskalasi konflik regional. Insiden ini terjadi saat ketegangan mencapai puncaknya, di mana Iran sendiri telah mengancam akan menargetkan aset militer AS di kawasan jika serangan AS-Israel terus berlanjut.
Pejabat tinggi militer AS, Jenderal Dan Caine, bahkan mengakui bahwa tujuan militer AS tidak akan tercapai dalam semalam dan memerlukan 'pekerjaan yang sulit.' Hal ini mengindikasikan bahwa konflik di Timur Tengah bisa berlangsung lebih panjang dan rumit dari perkiraan awal. Komentar Presiden AS Donald Trump sehari sebelumnya yang menyebut serangan ke Iran bisa berlangsung empat minggu, serta laporan kematian prajurit AS keempat dalam operasi yang sama, semakin menambah panas situasi. Insiden jet jatuh ini bisa memicu pertanyaan serius tentang koordinasi dan risiko eskalasi di tengah situasi yang sudah sangat tegang.