Pernahkah Anda membayangkan “bunga” yang mematikan? Di Ikateq, Greenland, ribuan barel berkarat yang ditinggalkan militer Amerika Serikat kini bukan hanya jadi pemandangan, tapi juga bom waktu lingkungan. Penduduk setempat menjuluki sisa-sisa pangkalan udara Bluie East Two itu sebagai “bunga Amerika.” Namun, julukan ini mengandung ironi pahit: barel-barel tersebut perlahan-lahan mengikis dan memuntahkan limbah beracun ke lingkungan sekitar.
Pangkalan yang ditinggalkan puluhan tahun lalu ini, tepatnya di Ikateq, Greenland, menjadi saksi bisu jejak militer AS. Wartawan Al Jazeera, Nick Clark, mendokumentasikan kondisi ini pada tahun 2021, menunjukkan ribuan barel yang kini berubah menjadi tumpukan sampah beracun. Limbah ini berpotensi mencemari tanah, air, dan ekosistem Kutub Utara yang rapuh.
Dampak dari “warisan” ini tidak main-main. Bahan kimia berbahaya yang bocor dari barel-barel itu bisa meresap ke dalam tanah, mencemari sumber air, dan bahkan berdampak pada biota laut serta satwa liar. Bagi masyarakat Greenland yang sangat bergantung pada alam untuk mata pencarian dan kehidupan sehari-hari, ini adalah ancaman nyata terhadap kesehatan dan keberlangsungan lingkungan mereka.
Isu ini juga memicu pertanyaan besar tentang tanggung jawab. Siapa yang harus membersihkan ribuan ton sampah beracun ini? Meskipun Greenland adalah wilayah otonom Denmark, beban pembersihan situs seluas ini jelas akan menelan biaya sangat besar dan memerlukan upaya internasional. Keengganan Amerika Serikat untuk menanggung biaya dan upaya pembersihan bisa memicu ketegangan diplomatik antara Washington, Kopenhagen, dan Nuuk (ibu kota Greenland), serta menjadi contoh buruk bagi pengelolaan limbah militer global. Insiden ini menegaskan kembali urgensi penanganan warisan lingkungan dari aktivitas militer di seluruh dunia, terutama di daerah yang rentan seperti Arktik.