Jakarta, Media Online – Geger skandal kembali menerpa reality show populer Married at First Sight (MAFS) Australia. Sebuah investigasi BBC mengungkap fakta mengejutkan: sejumlah peserta wanita mengaku tidak diberi tahu bahwa pasangan mereka memiliki catatan kriminal, mulai dari kasus narkoba hingga kekerasan.
Investigasi ini menguak celah besar dalam sistem keamanan acara tersebut. Salah satu peserta, Sierah Swepstone, mengaku baru mengetahui sang suami, Billy Belcher, pernah dihukum karena kasus narkoba di Perth setelah syuting selesai. “Seharusnya ada persetujuan berdasarkan informasi yang jelas. Saya tidak boleh ditinggal sendirian dengan orang asing yang punya catatan kriminal,” ujarnya kepada BBC.
Bukan cuma Sierah, sembilan mantan peserta lainnya angkat bicara. Mereka menuntut produser melakukan pemeriksaan latar belakang yang lebih ketat dan melarang individu dengan catatan kriminal ikut serta. Temuan BBC ini makin panas karena sebelumnya versi MAFS UK juga diterpa badai setelah tayangan Panorama melaporkan tuduhan pemerkosaan oleh dua peserta wanita—yang langsung dibantah pria bersangkutan.
Pihak stasiun TV Channel 9 dan rumah produksi Endemol Shine Australia membela diri. Dalam pernyataan bersama, mereka mengklaim memiliki “protokol kuat untuk memastikan keamanan dan kesejahteraan peserta.” Namun, mereka mengakui kebijakan mereka tidak mewajibkan membagikan informasi pribadi atau latar belakang antar peserta. Artinya, peserta bisa saja dijodohkan dengan mantan narapidana tanpa sepengetahuan mereka.
Analisis Dampak: Skandal ini menghancurkan ilusi “kencan buta romantis” yang selama ini dijual MAFS. Di Indonesia, di mana acara serupa juga punya banyak penggemar, kasus ini jadi peringatan keras. Platform streaming seperti Netflix dan Disney+ Hotstar yang menayangkan MAFS Australia harus lebih selektif. Jika tidak, mereka bisa kehilangan kepercayaan penonton. Lebih penting lagi, kasus ini menyoroti eksploitasi emosional di balik reality show: demi rating, keselamatan peserta bisa dikorbankan.