Departemen Keamanan Dalam Negeri AS (DHS) kembali bikin heboh. Mereka tetap ngotot melanjutkan upaya deportasi Liam Conejo Ramos, bocah berusia lima tahun, beserta ayahnya Adrian Conejo Arias ke Ekuador. Padahal, kasus keluarga pencari suaka ini sebelumnya sempat mencuri perhatian publik dan dibebaskan oleh hakim.
Kabar ini disampaikan DHS usai Liam dan ayahnya kembali ke Minnesota. Meski begitu, DHS membantah tudingan pengacara keluarga yang menyebut langkah ini sebagai upaya deportasi kilat yang bersifat 'balas dendam'. Juru bicara DHS, Tricia McLaughlin, Jumat lalu, menegaskan bahwa ini adalah 'prosedur standar' untuk menegakkan undang-undang imigrasi, tanpa ada maksud balas dendam.
Kasus Liam memang sudah jadi sorotan nasional sejak penahanan pertamanya pada 20 Januari. Foto-foto viral bocah berikat kepala kelinci biru dan tas ransel Spiderman yang ditarik agen imigrasi di tengah salju sukses menyita perhatian. Bahkan, Distrik Sekolah Umum Columbia Heights di Minnesota sampai menuduh petugas imigrasi menggunakan Liam sebagai 'umpan' untuk menangkap ayahnya. Namun, DHS sendiri mengklaim sang ayah justru meninggalkan anaknya saat didekati petugas. Keduanya saling membantah kronologi kejadian 20 Januari tersebut.
Penahanan Liam dan ayahnya adalah salah satu insiden paling menonjol di tengah operasi penumpasan imigran 'Operation Metro Surge' yang diluncurkan administrasi Presiden Donald Trump di Minnesota sejak Desember. Operasi ini mengerahkan ribuan agen, dan sayangnya diwarnai berbagai kontroversi. Video dan foto warga sipil justru menunjukkan taktik yang dinilai berlebihan. Bahkan, di area Minneapolis-St Paul, dua warga AS, Renee Nicole Good dan Alex Pretti, tewas ditembak agen imigrasi dalam sebulan terakhir. Protes keras atas insiden penembakan, laporan kekerasan terhadap warga sipil, dan penangkapan tanpa surat perintah, akhirnya membuat administrasi Trump menarik hampir 700 agen imigrasi minggu ini.
Liam dan ayahnya sendiri sempat ditahan dan dibawa dari Minnesota ke Dilley, Texas, setelah pulang dari prasekolah. Mereka ditahan di pusat pemrosesan imigrasi, sementara pejabat Trump berusaha mengusir mereka. Namun, pada 27 Januari, Hakim Fred Biery memutuskan mereka harus dibebaskan sembari menunggu proses banding atas pengusiran. Hakim Biery menekankan pentingnya 'due process' dan supremasi hukum dalam keputusannya yang tegas.
Tim hukum keluarga Conejo Ramos menyatakan bahwa mereka datang dari Ekuador, masuk ke AS secara legal, dan sedang dalam proses permohonan suaka ketika ditahan. Pengacara Danielle Molliver bahkan menduga kuat bahwa pengajuan dokumen deportasi kilat oleh DHS adalah 'tindakan balas dendam' atas keputusan hakim sebelumnya. Pertarungan hukum keluarga ini kian pelik, menyoroti betapa kompleksnya isu imigrasi dan perlindungan hak asasi manusia, terutama bagi anak-anak di tengah ketatnya kebijakan imigrasi.