Sebuah wawancara panas antara jurnalis konservatif Amerika, Tucker Carlson, dengan Duta Besar AS untuk Israel, Mike Huckabee, baru-baru ini mengguncang dunia politik AS. Wawancara tersebut secara terang-terangan mengangkat perdebatan sengit tentang di mana sebenarnya letak loyalitas pejabat Amerika: apakah lebih condong ke Israel atau tetap pada prinsip 'America First'? Isu ini memicu kecurigaan publik terhadap komitmen pejabat Washington kepada negaranya sendiri.
Poin-poin penting yang muncul dari wawancara ini menunjukkan Mike Huckabee, yang juga seorang pendeta Baptis dan mantan Gubernur Arkansas, menampilkan diri sebagai “sahabat sejati Israel.” Ia berulang kali mengulang argumen-argumen pro-Israel, seperti klaim “hak biblis” Israel atas tanah, menyebut Tepi Barat sebagai “Yudea dan Samaria,” dan bahkan menyetujui perluasan wilayah Israel di Timur Tengah. Huckabee juga sering menyamakan kepentingan Israel dengan kepentingan AS, seolah-olah menggunakan “kita” untuk mencakup Israel, dan bersikeras bahwa masalah di perbatasan Lebanon seharusnya menjadi perhatian Amerika.
Bukan hanya itu, Huckabee terang-terangan membela pertemuannya dengan Jonathan Pollard, mantan analis intelijen Amerika yang dihukum karena memata-matai AS untuk Israel. Ia bahkan mendukung pembebasan awal Pollard dari penjara. Puncaknya, dalam upaya membela tindakan militer Israel di Gaza, Huckabee sempat menyindir Angkatan Darat AS. Ia mengklaim bahwa militer Israel lebih hati-hati dalam menghindari korban sipil dibanding militer AS, bahkan membandingkannya dengan perang di Irak dan Afghanistan.
Pernyataan seorang duta besar yang secara terbuka membela militer asing ketimbang militernya sendiri tentu saja menimbulkan pertanyaan serius tentang letak kesetiaan utamanya. Perdebatan ini bukan hanya soal Huckabee pribadi, melainkan juga cerminan kecenderungan di kalangan elit politik AS. Kongres AS sendiri, baik dari Partai Republik maupun Demokrat, seringkali menunjukkan dukungan kuat untuk Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu setiap kali ia berkunjung, menegaskan bahwa Huckabee bukanlah satu-satunya “sahabat sejati Israel” di lingkaran kekuasaan Washington. Insiden ini berpotensi menjadi momen penting dalam membentuk cara pandang publik Amerika terhadap hubungan pemerintah mereka dengan Israel.