Juba, Sudan Selatan – Sebuah serangan bom menghancurkan rumah sakit di kota Lankien, negara bagian Jonglei, pada awal Februari lalu. Ledakan itu terjadi hanya beberapa jam setelah tim medis mengevakuasi pasien terakhir, termasuk ibu-ibu yang sedang melahirkan dan korban luka tembak. Peristiwa ini menjadi bagian dari gelombang kekerasan dalam operasi militer pemerintah yang disebut 'Operation Enduring Peace'.
Dalam serangan itu, gudang rumah sakit hancur berkeping-keping. Tak hanya itu, warga yang kembali ke rumah mereka menemukan fasilitas kesehatan telah dibakar habis. Unit penyimpanan vaksin (cold-chain) ikut hangus, kendaraan dilubangi peluru dan dicopot komponennya, panel surya dibongkar, dan pasar setempat hanya menyisakan tumpukan besi bengkok. Rumah-rumah di pinggiran kota juga hangus terbakar.
"Semua yang menopang kehidupan manusia sengaja dihancurkan," ujar Emmerson Gono, wakil kepala misi Doctors Without Borders (MSF), yang mengunjungi Lankien pada April lalu. Ia menegaskan penilaian itu berdasarkan pengamatan langsung di lapangan.
Analisis citra satelit oleh Centre for Information Resilience (CIR) menunjukkan pola kehancuran yang meluas di wilayah basis kelompok oposisi tersebut. Dari 23 insiden yang tercatat antara Januari dan Februari, sebagian besar menghancurkan bangunan sipil seperti rumah, pusat kesehatan, dan pasar. CIR menduga kerusakan ini merupakan bagian dari strategi militer yang disengaja. Baik tentara pemerintah maupun kelompok oposisi saling tuduh sebagai dalang pembakaran desa dan penyerangan terhadap warga sipil.
Dampak Kemanusiaan: Akibat penghancuran infrastruktur vital ini, puluhan ribu warga terpaksa mengungsi ke rawa-rawa. Para ahli memperingatkan bahwa kondisi ini mendorong mereka ke jurang kelaparan (famine). Penghancuran rantai dingin vaksin juga mengancam program imunisasi anak-anak di wilayah yang sudah rapuh itu. Situasi ini menambah panjang daftar krisis kemanusiaan di Sudan Selatan yang sudah dilanda perang saudara dan kemiskinan ekstrem.