Ketegangan di Yaman kembali memuncak! Istana Kepresidenan al-Maashiq di Aden mendadak ricuh saat massa mencoba menyerbu, berujung pada baku tembak. Insiden berdarah ini terjadi tak lama setelah pemerintah Yaman yang diakui internasional baru saja menggelar pertemuan pertamanya di sana. Apa sebenarnya yang memicu gejolak baru ini dan siapa dalang di baliknya?
Kamis lalu (waktu setempat), aparat keamanan Yaman menembaki kerumunan massa yang berafiliasi dengan Southern Transitional Council (STC) saat mereka berupaya mendobrak gerbang Istana al-Maashiq. Istana ini merupakan pusat pemerintahan yang baru saja menggelar rapat kabinet perdana di bawah Perdana Menteri Shaya Mohsen al-Zindani.
Laporan Al Jazeera menyebutkan, setidaknya satu orang tewas dan sebelas lainnya luka-luka dalam insiden penembakan ini. Sementara itu, pihak STC mengklaim korban luka mencapai 21 orang. Mereka mengecam keras tindakan aparat keamanan yang dianggap menggunakan kekuatan berlebihan, termasuk peluru tajam, dan mendesak pembentukan komite independen untuk mengusut tuntas kejadian ini. Komite Keamanan Provinsi Aden, di sisi lain, menyatakan personelnya bertindak sesuai prosedur hukum untuk menanggapi provokasi bersenjata yang berpotensi melakukan 'tindakan sabotase'.
Penolakan terhadap pemerintah baru ini tak berhenti di situ. Sehari setelah insiden, STC secara tegas menolak mengakui legitimasi pemerintah Yaman yang didukung Arab Saudi tersebut. Mereka menyebut keberadaan pemerintah itu di Aden hanya sebagai 'otoritas de facto' yang sama sekali tidak memiliki dukungan politik maupun rakyat di Yaman Selatan. STC yang didukung Uni Emirat Arab ini adalah kelompok separatis bersenjata yang menginginkan kemerdekaan Yaman Selatan. Mereka sebelumnya sempat menguasai Aden sebelum didesak mundur oleh pasukan yang didukung Arab Saudi pada awal Januari.
Gejolak ini menambah panjang daftar konflik yang melanda Yaman sejak 2014, kala pemberontak Houthi menguasai sebagian besar negara, termasuk ibu kota Sanaa. Ketegangan antara pemerintah yang diakui internasional (didukung Saudi) dan kelompok separatis (didukung UEA) menunjukkan fragmentasi kekuasaan yang kompleks di Yaman. Insiden penembakan di Aden ini tidak hanya memperparah ketidakstabilan politik, tapi juga berpotensi memicu eskalasi kekerasan yang lebih luas, pada akhirnya menyengsarakan masyarakat sipil yang sudah bertahun-tahun hidup dalam bayang-bayang perang.