Ketegangan di Timur Tengah memuncak! Lebanon kembali diterjang gempuran mematikan dari Israel, yang disebut-sebut sebagai serangan paling mematikan dalam setahun terakhir. Akibatnya, setidaknya 31 orang tewas dan 149 lainnya luka-luka. Serangan ini memicu kepanikan massal, membuat ribuan warga sipil berbondong-bondong mengungsi dari Lebanon selatan dan pinggiran selatan Beirut, menciptakan kemacetan parah di jalan-jalan utama dan mengubah sekolah-sekolah menjadi tempat penampungan sementara.
Kementerian Kesehatan Lebanon melaporkan, serangan udara Israel yang terjadi semalam menyasar pinggiran Beirut dan wilayah selatan Lebanon. Insiden ini terjadi tak lama setelah kelompok Hizbullah meluncurkan rudal ke Israel, pertama kalinya dalam lebih dari 12 bulan terakhir. Hizbullah mengklaim serangan mereka adalah balasan atas terbunuhnya Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei dan 'agresi berulang Israel', menegaskan itu adalah 'respons defensif yang sah'.
Situasi di Lebanon selatan dan Beirut begitu mencekam. Jalan raya utama menjadi lumpuh total akibat antrean kendaraan yang panjang, dipenuhi warga yang berusaha menyelamatkan diri. Salah satunya Ali Hamdan, yang membutuhkan tujuh jam untuk perjalanan yang seharusnya hanya 30 menit. 'Saya tidak tahu berapa lama sampai Beirut, atau di mana kami akan tinggal,' ujarnya. Banyak pengungsi kini mencari perlindungan di penampungan darurat yang didirikan di sekolah-sekolah umum ibu kota. Keluarga-keluarga berdatangan membawa kasur dan barang seadanya, sementara para sukarelawan sibuk mendaftarkan nama di antara keramaian kelas dan halaman sekolah.
Trauma mendalam dialami warga, seperti Hussein Abu Ali yang menyaksikan putranya gemetar dan menangis saat serangan terjadi. 'Mau ke mana lagi? Saya keluar, lalu masuk lagi karena takut ada penembakan di udara. Saya kumpulkan anak-anak dan turun ke jalan,' kenangnya. Sementara itu, Nadia al-Salman, seorang pengungsi dari Majdal Zoun, menyatakan keteguhan, 'Mereka tidak mengintimidasi atau menakuti kami, dan tidak akan membuat kami mundur sejengkal pun dari jalan perlawanan.'
Konflik ini bukanlah hal baru. Selama Perang Israel-Hizbullah 2024, lebih dari satu juta warga Lebanon telah mengungsi, dan banyak yang masih belum bisa kembali ke desa-desa perbatasan mereka yang hancur. Yang lebih mengkhawatirkan, juru bicara militer Israel Brigadir Jenderal Effie Defrin mengisyaratkan bahwa Israel tengah mempertimbangkan 'segala opsi', termasuk potensi invasi darat. Ia memperingatkan, 'Hizbullah akan membayar harga yang sangat mahal.' Sejak konflik dengan Iran dimulai pada Sabtu lalu, Israel juga telah memobilisasi lebih dari 100.000 tentara cadangan, menandakan eskalasi serius di kawasan tersebut. Warga di sekitar 50 komunitas di Lebanon selatan dan timur bahkan sudah diperingatkan untuk segera mengungsi.