Jakarta, [Tanggal Hari Ini] – Peter Garrett, mantan Menteri Lingkungan Hidup Australia yang juga vokalis legendaris band Midnight Oil, memimpin sebuah tinjauan independen terhadap kontrak kapal selam nuklir AUKUS. Proyek pertahanan termahal dalam sejarah Australia senilai A$368 miliar (sekitar Rp3.800 triliun) ini dinilai sudah saatnya diaudit secara terbuka.
Garrett menegaskan bahwa publik Australia tidak punya cukup ruang untuk mempertanyakan kesepakatan raksasa ini. "Kesempatan untuk bertanya, berdebat, dan memutuskan telah diambil dari tangan parlemen dan rakyat," ujarnya. Tinjauan ini akan mengadakan dengar pendapat publik dan laporan akhirnya akan dirilis pada Oktober mendatang.
Tim komisioner yang dibentuk tidak hanya berisi tokoh militer. Mereka termasuk mantan Kepala Angkatan Pertahanan Australia (ADF) Laksamana Chris Barrie, mantan Perdana Menteri Australia Barat Carmen Lawrence, serta Karen Lester—putri seorang pria Aborigin yang menjadi buta akibat uji coba nuklir Inggris di Australia Selatan pada 1950-an.
Dukungan terhadap tinjauan ini datang dari lintas spektrum, termasuk senator independen David Pocock, anggota parlemen Andrew Wilkie, serta mantan politisi, perwira militer pensiunan, pengacara HAM, dan pimpinan serikat buruh.
Fokus Utama Tinjauan: Tim akan menyelidiki apakah kapal selam bertenaga nuklir ini benar-benar membuat Australia lebih aman, bagaimana penyimpanan limbah radioaktifnya, serta dampaknya terhadap kedaulatan negara. Pertanyaan paling krusial adalah bagaimana kesepakatan ini memengaruhi hubungan dagang Australia dengan China—mitra dagang terbesarnya.
Kesepakatan AUKUS yang pertama kali diumumkan pada September 2021 ini secara tidak langsung ditujukan untuk membendung pengaruh China di kawasan Indo-Pasifik, termasuk ketegangan di Laut China Selatan. China sendiri mengutuk perjanjian ini sebagai tindakan yang "sangat tidak bertanggung jawab".
Perubahan terbaru dalam kontrak ini membuat Australia akan membeli tiga kapal selam bekas pakai AS, menggantikan rencana awal untuk mendapatkan satu kapal baru. Mulai 2027, AS dan Inggris juga akan menempatkan sejumlah kecil kapal selam nuklir di Perth, Australia Barat.
Dampak bagi Indonesia: Bagi Indonesia, tinjauan ini menjadi perhatian serius. Kehadiran kapal selam nuklir di perairan dekat Indonesia berpotensi mengubah keseimbangan keamanan regional. Jika hasil tinjauan ini menemukan kelemahan dalam aspek keamanan lingkungan atau penyimpanan limbah nuklir, maka negara-negara tetangga termasuk Indonesia bisa mendesak transparansi yang lebih besar. Ini juga menjadi preseden bagi negara-negara di kawasan untuk ikut mempertanyakan kesepakatan militer besar yang dampaknya langsung terasa di sekitar mereka.