Aksi mogok makan yang dilakukan sopir taksi New York demi tuntutan keringanan utang pada akhir 2021 lalu mungkin terlihat ekstrem. Namun, tahukah Anda, ini adalah salah satu taktik protes paling kuno dan ampuh. Bagaimana tubuh bisa menjadi senjata perlawanan terakhir?
Peristiwa di depan Balai Kota New York, Lower Manhattan pada 31 Oktober 2021, saat para sopir taksi melakukan mogok makan, menunjukkan bahwa metode ini masih relevan. Mereka menuntut keringanan utang yang membelit. Aksi ini mengikuti jejak panjang aktivis politik dan tahanan di seluruh dunia, seperti Bobby Sands (pemimpin IRA) atau Hisham Abu Hawash (tahanan Palestina), yang menggunakan mogok makan untuk memperjuangkan kondisi yang lebih baik.
Untuk memahami lebih dalam taktik ini, kami berbincang dengan Nayan Shah, seorang profesor dari University of Southern California yang mendalami sejarah dan etnografi Amerika. Menurutnya, mogok makan adalah cara 'memproyeksikan kemungkinan hidup dan mati seseorang' untuk sebuah tujuan.
Tubuh Sebagai Alat Komunikasi Paling Kuat
Menurut Shah, pada intinya, menolak makan saat terkurung atau dalam protes adalah menggunakan kekurangan pada tubuh untuk melawan kondisi yang menekan, dan menyatukannya dengan tujuan politik. Para pelaku mogok makan 'menggerakkan' tubuh mereka untuk berkomunikasi melampaui dinding penjara atau barikade protes, langsung ke publik. Peran pengacara, advokat, dan keluarga kemudian menjadi jembatan penting untuk menyampaikan pengalaman dan pesan mereka.
Bukan Sembarang Aksi, Perlu Persiapan Matang
Aksi ini jauh dari kata spontan. Shah terkesan dengan strategi yang digunakan para mogok makan untuk menenangkan pikiran dan impuls mereka, serta mengurangi rasa lapar dan transformasi fisik yang terjadi. Beberapa bahkan berlatih 'deprivasi' atau puasa panjang, bahkan melakukan mogok makan singkat untuk membangun ketahanan sebelum melakoni yang sesungguhnya.
Mereka harus siap menghadapi rasa lapar yang menyiksa, nyeri, kelemahan, pusing, lesu, sembelit, hingga ancaman dan bujukan dari sipir, penjaga, dokter, dan anggota keluarga untuk kembali makan. Ada juga yang mencoba mencegah dehidrasi dengan minum air (ditambah garam). Selain itu, solidaritas antar sesama pelaku juga sangat krusial, terutama saat terisolasi secara fisik. Jika ada perselisihan atau keputusasaan, aksi mogok makan bisa hancur berantakan.
Membalikkan Kekuatan Negara
Hal menarik lainnya, mogok makan bisa 'membalikkan' tekanan yang diberikan oleh negara. Di dalam penjara, makanan – jadwal penyajian, pengiriman, dan penarikannya – adalah elemen sentral dalam operasional penjara. Ketika seseorang menolak makan, ini secara efektif menciptakan kekacauan dan gangguan dalam sistem.
Shah menjelaskan, mogok makan berbeda dari bentuk protes lain karena tidak menyebabkan kerugian material pada pihak lawan. Sebaliknya, ia menciptakan 'eksposur mengkhawatirkan' akan penderitaan si pelaku. Ini seperti gerakan jiu-jitsu: secara tak langsung, tanggung jawab atas 'kehancuran diri' si pelaku beralih ke pundak otoritas negara.