Gelombang serangan dan balasan antara koalisi Amerika Serikat-Israel melawan Iran telah memicu kekacauan di Timur Tengah sejak Sabtu, menyebabkan ratusan korban jiwa dan memperparah ketegangan di kawasan. Ledakan dan rentetan misil dilaporkan terjadi di Iran, Israel, serta beberapa negara tetangga.
Militer Israel, dengan dukungan AS, melancarkan serangan udara intensif ke 24 dari 31 provinsi di Iran, menjatuhkan lebih dari 1.200 amunisi. Tidak tinggal diam, Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) segera membalas dengan meluncurkan rudal dan drone ke 27 pangkalan militer AS di Timur Tengah serta fasilitas militer Israel di Tel Aviv dan wilayah lain. Serangan balasan Iran dilaporkan menyasar delapan negara di kawasan, termasuk Bahrain, Irak, Yordania, Kuwait, Oman, Qatar, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab, meskipun banyak di antaranya berhasil dicegat.
Data awal yang dirilis per Minggu sore GMT menunjukkan angka korban yang memilukan. Di Iran, setidaknya 201 orang tewas dan 747 terluka. Insiden paling mematikan terjadi di kota Minab, Iran tenggara, di mana sebuah serangan terhadap sekolah dasar perempuan merenggut nyawa sedikitnya 148 orang. Sementara itu, di Israel, sembilan orang meninggal dunia, termasuk delapan akibat serangan rudal balistik Iran di Beit Shemesh dan satu wanita di Tel Aviv karena serpihan. Tiga tentara AS juga dilaporkan tewas. Angka ini diperkirakan akan terus bertambah seiring dengan berlanjutnya operasi penyelamatan.
Eskalasi serius ini terjadi setelah Iran sebelumnya memperingatkan akan menargetkan fasilitas militer AS di kawasan jika diserang. Perlu dicatat, AS telah lama memiliki jaringan pangkalan militer yang luas di Timur Tengah, menempatkan sekitar 40.000 hingga 50.000 tentara di setidaknya 19 lokasi, termasuk delapan pangkalan permanen di Bahrain, Mesir, Irak, Yordania, Kuwait, Qatar, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab. Pangkalan-pangkalan ini berfungsi sebagai pusat penting untuk operasi udara dan laut, logistik, pengumpulan intelijen, dan proyeksi kekuatan AS. Keberadaan pangkalan-pangkalan inilah yang menjadikan konflik ini berpotensi memiliki dampak regional yang sangat luas dan serius, menciptakan kekhawatiran akan perang yang lebih besar di kawasan.