Ketegangan di Timur Tengah memanas. Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, melontarkan pernyataan tegas: Selat Hormuz akan dibuka “satu cara atau lainnya”, bahkan dengan opsi militer. Pernyataan ini muncul di tengah lobi diplomatik terselubung dengan Iran dan ancaman keras dari Presiden Donald Trump.
Dalam wawancara eksklusif dengan Al Jazeera, Rubio menegaskan bahwa Washington akan terus melancarkan kampanye militernya hingga Teheran sepenuhnya menghentikan program nuklir dan misil mereka. Ia bahkan menyebut target perang AS bisa tercapai “dalam hitungan minggu, bukan bulan”. Meskipun demikian, jalur komunikasi tidak langsung melalui perantara antara Washington dan Teheran masih terus berlangsung.
Sikap AS ini menunjukkan pendekatan “dua jalur”. Di satu sisi, diplomasi tetap dibuka melalui perantara, namun di sisi lain tekanan militer dan ekonomi ditingkatkan. Ancaman serupa juga datang dari Presiden Trump yang di media sosial mengancam akan “meluluhlantakkan” infrastruktur energi Iran jika gencatan senjata tak tercapai.
Rubio menyoroti program misil Iran sebagai ancaman langsung bagi negara-negara Teluk, seperti Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Qatar, Kuwait, dan Bahrain. Ia juga menambahkan bahwa AS menyambut baik perubahan politik di Iran jika ada kesempatan, namun menegaskan itu bukan tujuan resmi. Di luar itu, AS juga mencermati perkembangan di Kuba dan Venezuela, serta mengkritik sekutu NATO yang menolak akses pangkalan selama konflik.
Ancaman pembukaan paksa Selat Hormuz, jalur pelayaran minyak vital dunia, berpotensi memicu gejolak harga minyak global dan ketidakstabilan ekonomi. Jika jalur ini terganggu, dampaknya bisa dirasakan oleh banyak negara. Di sisi lain, pakar dari Universitas Teheran, Hassan Ahmadian, mempertanyakan narasi bahwa Iran adalah ancaman ofensif. Menurutnya, strategi militer Iran selama berabad-abad bersifat defensif, terutama dalam konflik asimetris, dan apa yang mereka lakukan saat ini adalah upaya untuk mempertahankan diri dari posisi “underdog” mereka.
Situasi ini jelas menempatkan Timur Tengah di ujung tanduk. Dengan Selat Hormuz yang menjadi taruhan dan perbedaan pandangan fundamental antara AS dan Iran, masyarakat global perlu mewaspadai potensi eskalasi konflik yang bisa berdampak luas.