Kuba kembali menghadapi bulan kelam dengan pemadaman listrik berkepanjangan. Blokade bahan bakar hampir total dari Amerika Serikat menjadi biang keladinya. Bagi warga biasa, seperti Ana Rosa Romero (70), seorang janda yang tinggal di gedung tinggi, hidupnya kini benar-benar berubah dan bergantung pada kapan listrik menyala.
BBC melaporkan bahwa pemadaman ini bukan lagi sekadar gangguan, melainkan telah menjadi pusat kehidupan sehari-hari. Warga harus merencanakan segala aktivitasāmulai dari memasak, bekerja, hingga tidurāberdasarkan jadwal listrik yang tidak menentu. Ini adalah krisis kemanusiaan yang nyata di negara yang sudah lama terisolasi secara ekonomi.
Di sisi lain, situasi ini diperparah dengan langkah terbaru dari Departemen Kehakiman AS yang secara resmi menuntut mantan pemimpin Kuba atas tuduhan pembunuhan dan kejahatan lain terkait penembakan dua pesawat sipil pada 1996. Tuduhan ini menambah tekanan politik yang sudah sangat tinggi antara Washington dan Havana.
Dampaknya bagi masyarakat Kuba sangatlah luas. Selain lumpuhnya aktivitas ekonomi skala kecil dan menengah, sektor kesehatan juga terancam. Rumah sakit harus bergantung pada generator yang bahan bakarnya juga terbatas. Ini bukan hanya soal kegelapan, tapi soal bertahan hidup di tengah blokade yang kian mencekik.