Empat tahun sudah konflik bersenjata Rusia dan Ukraina bergulir, mengubah total wajah sebuah negara dan kehidupan jutaan warganya. Dari kejutan awal invasi hingga kini, kepenatan perang membayangi setiap sudut kota, sebagaimana dicatat oleh Nils Adler, seorang jurnalis Al Jazeera yang telah melaporkan langsung dari medan konflik.
Awalnya, menjelang 24 Februari 2022, kebanyakan warga Ukraina, dari Lviv hingga Mariupol, tak menyangka akan terjadi invasi besar-besaran. Pengerahan ratusan ribu pasukan Rusia di perbatasan dianggap sebagai sandiwara politik belaka. Namun, dalam semalam, seluruh negeri terbangun dalam dunia yang berbeda. Sirene serangan udara jadi rutinitas, darurat militer diberlakukan, bahkan rambu jalan dilepas agar pasukan penyerbu tersesat. Warga sipil antre belajar menembak, sementara perempuan dan anak-anak berbondong-bondong mengungsi ke Eropa.
Tahun pertama perang ditandai gelombang patriotisme luar biasa. Presiden Volodymyr Zelenskyy, yang semula dicibir di dalam negeri, mendadak jadi simbol perlawanan nasional. Lagu-lagu perang berkumandang, sumbangan mengalir deras untuk militer. Pasukan Ukraina berhasil menahan upaya Rusia merebut Kyiv, bahkan melancarkan serangan balasan yang mengejutkan sekutu mereka. Momen ini menandai perubahan taktik Rusia.
Sejak akhir 2022, Rusia mulai menargetkan infrastruktur energi secara sistematis. Pembangkit listrik, jaringan distribusi, hingga sistem pemanas jadi sasaran empuk, membuat kota-kota gelap gulita saat musim dingin tiba. Mati listrik bukan lagi hal aneh. Generator listrik memenuhi halaman dan tangga gedung. Namun, masyarakat tetap beraktivitas, berjuang untuk terus bertahan hidup dan bekerja di tengah dingin yang menusuk.
Memasuki tahun 2023, dampak perang makin sulit diabaikan. Euforia pertempuran awal memudar, berganti realitas parit perang ala Perang Dunia I, namun kini dengan ancaman drone di atas kepala. Kendati Kyiv sudah aman dari pasukan darat Rusia, serangan udara terus berlanjut. Saat reporter kembali menjelang empat tahun perang, kepenatan terasa jelas. Serangan Rusia kian intensif, memanfaatkan cuaca dingin ekstrem untuk merusak infrastruktur. Malam hari seringkali dihiasi dentuman pertahanan udara, rudal, dan suara melengking drone 'Kamikaze'.
Kondisi ini menunjukkan, meski semangat perlawanan Ukraina tetap membara, beban fisik dan psikologis akibat perang berkepanjangan sangat besar. Masyarakat dipaksa beradaptasi dengan hidup di bawah ancaman konstan, dari krisis energi hingga ketidakpastian masa depan. Di sisi lain, laporan dari berbagai sumber lain juga menyoroti tantangan internal, termasuk isu korupsi yang bisa menghambat upaya pemulihan dan efektivitas bantuan internasional, sebuah isu krusial yang perlu terus diawasi di tengah badai konflik ini.