EKSIL IRAN DI AS: TERANCAM BALAS DENDAM DAN KEBENCIAN? - Berita Dunia
← Kembali

EKSIL IRAN DI AS: TERANCAM BALAS DENDAM DAN KEBENCIAN?

Foto Berita

Jauh dari tanah kelahiran, namun ancaman nyata masih menghantui. Ribuan kritikus pemerintah Iran yang mencari suaka di Amerika Serikat kini hidup dalam 'ketakutan ganda': tidak aman di pengasingan, juga tak mungkin kembali ke rumah. Mereka tak hanya khawatir akan balasan langsung dari rezim Teheran, tapi juga sentimen anti-imigran yang makin menguat di bawah bayang-bayang politik AS.

Roozbeh Farahanipour, seorang pengusaha dan aktivis berusia 54 tahun yang telah mengasingkan diri di AS sejak tahun 2000 untuk menghindari hukuman mati di Iran, merasakan langsung ancaman ini. Meski ribuan kilometer jauhnya, ia tak pernah merasa sepenuhnya aman. Ada periode di mana ban mobilnya berulang kali dirobek, dan pada tahun 2022, pintu salah satu restorannya di Los Angeles, Persian Gulf Cafe, hancur ditembak saat ia bersaksi mengecam kekerasan Iran terhadap demonstran. Ia menduga keras insiden-insiden ini terkait dengan aktivitasnya.

Negar Razavi, seorang sarjana dari Princeton University, menegaskan bahwa tidak ada tempat yang benar-benar aman bagi para pembangkang Iran ini. Mereka hidup di antara dua dunia yang penuh bahaya. Bahkan di AS, status suaka mereka tidak selalu menjamin perlindungan. Razavi menyoroti kasus deportasi lebih dari seratus warga Iran, termasuk pengungsi dan pencari suaka, oleh pemerintahan Donald Trump kembali ke Iran, meskipun ada kekhawatiran mereka akan menghadapi persekusi. Peristiwa ini, termasuk insiden deportasi pada September dan Desember, jelas menciptakan ketakutan mendalam di kalangan komunitas diaspora.

Kecemasan ini makin memuncak setelah meningkatnya ketegangan antara AS dan Iran. Meskipun sejumlah eksil, seperti Farahanipour, sempat menyambut gembira kabar (yang kemudian tidak terbukti) tentang langkah agresif yang menyasar petinggi Iran, insiden tersebut secara signifikan meningkatkan tensi dan memperburuk rasa tidak aman bagi komunitas ini. Mereka khawatir ketegangan geopolitik akan memicu sikap permusuhan terhadap imigran dan warga Iran-Amerika, komunitas diaspora Iran terbesar di dunia, yang berjumlah lebih dari 413.000 jiwa.


Bagikan berita ini:

WhatsApp Facebook