Al Jazeera siap menggebrak publik dengan investigasi terbarunya yang mengungkap jaringan kelompok bersenjata di Jalur Gaza. Mereka dituding bekerja sama dengan militer Israel di tengah perang brutal yang masih terus berkecamuk di wilayah kantong tersebut.
Dokumenter berjudul 'What is Hidden is Greater' ini, buah karya jurnalis Tamer Almisshal, bakal tayang Jumat malam waktu Doha (pukul 18:00 GMT). Isinya bukan cuma nama-nama kelompok, tapi juga detail pergerakan, lokasi latihan, hingga cara mereka merekrut anggota, semuanya didukung bukti audio dan video.
Yang bikin kaget, kelompok-kelompok ini leluasa bergerak dari utara ke selatan Gaza, bahkan di balik 'garis kuning' — zona demarkasi yang secara de facto jadi zona penyangga Israel. Padahal, area itu mestinya terlarang bagi warga Palestina pasca-gencatan senjata awal Oktober lalu. Zona ini sendiri membentang 1,5 hingga 6,5 kilometer ke dalam Gaza, mencakup hampir 58 persen wilayah kantong.
Dugaan kolaborasi ini makin menguat dengan berbagai bukti, meskipun beberapa kelompok yang dituduh sempat membantah. Ingat, Juni tahun lalu PM Israel Benjamin Netanyahu sendiri terang-terangan mengakui bahwa pihaknya memang 'mengaktifkan' klan-klan lokal dan geng bersenjata di Gaza atas saran pejabat keamanan untuk melawan Hamas.
Salah satu kesaksian mengejutkan datang dari seorang wanita Palestina yang baru pulang ke Gaza lewat Rafah. Ia mengaku dicegat di pos pemeriksaan oleh milisi Palestina bersenjata yang mengaku dari Popular Forces alias milisi Abu Shabab, yang jelas-jelas didukung Israel. Setelah itu, ia dan beberapa wanita lain diserahkan ke pasukan Israel untuk digeledah, ditutup matanya, diborgol, dan diinterogasi terkait serangan 7 Oktober.
Kelompok Popular Forces ini, yang didirikan oleh Yasser Abu Shabab (meninggal Desember lalu dan digantikan Ghassan al-Dahini), disebut-sebut juga membantu mengamankan pengiriman bantuan ke pusat distribusi baru yang didukung Amerika Serikat dan Israel.
Terbongkarnya jaringan kolaborasi ini jelas jadi pukulan telak bagi warga Gaza. Di tengah penderitaan akibat perang yang sudah menewaskan puluhan ribu orang, kini mereka harus menghadapi ancaman 'musuh dalam selimut'. Ini bukan cuma soal strategi perang Israel yang makin licik, tapi juga potensi memecah belah persatuan Palestina serta mempertanyakan netralitas bantuan kemanusiaan. Adanya kelompok internal yang membantu Israel bisa jadi celah bagi Tel Aviv untuk mengintervensi urusan internal Gaza, bahkan menggerogoti perlawanan dari dalam.