Washington, DC - Rencana Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, untuk membangun ballroom atau gedung pesta dansa di kompleks Gedung Putih kian mengkhawatirkan. Setahun setelah diumumkan, proyek ini membengkak drastis, tidak hanya dari segi biaya tetapi juga cakupannya.
Semula hanya berupa ballroom, kini proposalnya mencakup 'drone port' di atap, rumah sakit bawah tanah, hingga fasilitas militer 'sangat rahasia'. Akibatnya, estimasi biaya meroket dua kali lipat menjadi 400 juta dolar AS atau sekitar Rp6,5 triliun.
Trump sebelumnya berjanji proyek ini tidak akan membebani pajak warga AS. Namun, Partai Republik justru meminta dana tambahan ke Kongres untuk keamanan kompleks tersebut. Hal ini terjadi di tengah masyarakat Amerika yang tengah berjuang melawan biaya hidup tinggi akibat perang Iran.
Dalam unggahan di Truth Social, Trump menyebut ballroom itu 'vital untuk Keamanan Nasional' dan diperlukan untuk 'mengakomodasi orang-orang untuk pesta besar dan kunjungan kenegaraan'. Padahal, saat ini Gedung Putih sudah memiliki East Room yang mampu menampung 200 tamu untuk acara seremonial.
Rencana awal menyebut ballroom baru akan dibangun di lokasi sayap timur (East Wing) yang telah berdiri selama 120 tahun dan menempati area seluas 90.000 kaki persegi. Konstruksi ditargetkan selesai 'jauh sebelum' akhir masa jabatan Trump pada Januari 2029.
Analisis: Proyek ini menuai kritik tajam karena dianggap sebagai bentuk pemborosan dan prioritas yang salah di tengah tekanan ekonomi. BBC Verify mencatat ini adalah perubahan terbesar pada Gedung Putih dalam beberapa dekade. Publik mempertanyakan urgensi fasilitas mewah ini ketika rakyat kesulitan memenuhi kebutuhan pokok.