Jakarta – Kisah pahit manis dialami wasit asal Somalia, Omar Artan. Meski ditolak keras masuk Amerika Serikat (AS) untuk memimpin laga Piala Dunia 2026, ia tetap akan menerima gaji penuh dari FIFA. Kabar ini menjadi sorotan tajam di tengah isu diskriminasi visa yang menimpa banyak atlet Afrika.
Omar Artan, yang sudah menjadi wasit FIFA sejak 2018, dicegah masuk AS saat tiba di Bandara Miami pada Senin (15/6/2026). Ia diperiksa selama 11 jam oleh petugas imigrasi. Alasannya? Pemerintah AS menuduh Artan memiliki 'asosiasi dengan anggota teroris' dari kelompok Al Shabab. Padahal, Artan mengaku tidak tahu menahu soal kelompok tersebut dan hanya ingin mewujudkan mimpinya sebagai wasit di Piala Dunia.
"Saya hanya wasit yang mencoba menjalani mimpi terbesar hidup saya, datang ke Piala Dunia. Saya punya dokumen lengkap dan visa yang benar," ujar Artan pahit.
Setelah dipulangkan ke Turki, FIFA langsung turun tangan. Meski tidak bisa memimpin pertandingan, sumber BBC Sport menyebut FIFA berkomitmen membayar penuh gaji Artan. Ini menjadi angin segar di tengah kekecewaan publik. Sebagai informasi, wasit Piala Dunia baru mengetahui nominal honor mereka setelah turnamen selesai.
Analisis: Kasus ini membuka mata dunia tentang praktik diskriminasi yang masih terjadi di balik kemegahan Piala Dunia. Banyak pengamat menilai kebijakan visa AS yang super ketat justru merugikan semangat multikulturalisme olahraga. Artan sendiri, yang dinobatkan sebagai Wasit Pria Terbaik Afrika 2025, justru mendapat undangan memimpin UEFA Super Cup antara PSG vs Aston Villa pada 12 Agustus mendatang. Sebuah ironi: Eropa menyambutnya, Amerika menolaknya.
"Ini bukan hanya soal sepak bola, tapi soal martabat manusia. Jika wasit sekelas Artan diperlakukan seperti ini, bagaimana dengan atlet Afrika lainnya?" tulis jurnalis olahraga Afrika, Sammy Ndolo, dalam analisisnya.