PERANG BAYANGAN: IRAN TOLAK NEGO USAI PEMIMPINNYA TEWAS - Berita Dunia
← Kembali

PERANG BAYANGAN: IRAN TOLAK NEGO USAI PEMIMPINNYA TEWAS

Foto Berita

Ketegangan di Timur Tengah kian memanas setelah Iran dengan tegas membantah laporan media Amerika Serikat yang menyebutkan adanya upaya baru untuk melanjutkan perundingan nuklir dengan Washington. Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, Ali Larijani, langsung membantah klaim tersebut lewat unggahan di akun X miliknya, Senin. "Kami tidak akan bernegosiasi dengan Amerika Serikat," tegas Larijani, menepis laporan The Wall Street Journal yang mengatakan ia berusaha membuka kembali meja perundingan melalui mediator Oman.

Situasi ini mencuat pasca-serangan gabungan AS dan Israel yang menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, pada Sabtu lalu. Insiden tragis tersebut menjadi pemicu utama kemarahan Teheran dan menaikkan suhu konflik di kawasan. Larijani bahkan melontarkan kritik pedas kepada mantan Presiden AS Donald Trump, menuduhnya telah menyeret Timur Tengah ke dalam kekacauan dengan "fantasi delusionalnya" dan mengorbankan tentara Amerika demi ambisi Israel.

Sejak pembunuhan Khamenei, serangan AS dan Israel di berbagai wilayah Iran terus berlanjut. Tak tinggal diam, Iran membalas dengan menargetkan aset-aset Amerika Serikat di seluruh Timur Tengah. Komando Pusat AS (CENTCOM) mengonfirmasi bahwa serangan balasan Iran pada Minggu telah menewaskan setidaknya tiga anggota militer AS dan melukai lima lainnya secara serius. Eskalasi ini memperparah kekhawatiran global akan meletusnya perang regional yang lebih luas.

Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, telah mengirim surat kepada Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres dan Dewan Keamanan PBB, mengecam pembunuhan Khamenei sebagai "tindakan teror pengecut" dan menyebut serangan-serangan yang terjadi sebagai "eskalasi berbahaya dan belum pernah terjadi sebelumnya" yang melanggar norma fundamental kenegaraan. Analis menilai, pembunuhan pemimpin spiritual tertinggi Iran ini bukan sekadar insiden biasa, melainkan pelanggaran garis merah yang bisa memicu respons Iran secara drastis, berpotensi melibatkan proksi-proksi mereka di kawasan. Ancaman perang terbuka dan dampaknya terhadap pasokan energi global, terutama jika Selat Hormuz terganggu, menjadi kekhawatiran serius yang dapat mengguncang stabilitas ekonomi dunia. Situasi ini juga menguji kemampuan diplomasi internasional untuk meredakan krisis yang kian memanas.


Bagikan berita ini:

WhatsApp Facebook