Partai Islam terbesar di Bangladesh, Jamaat-e-Islami, yang dulunya terpinggirkan dan kerap menghadapi larangan, kini mendadak jadi pusat perhatian menjelang pemilihan umum 12 Februari mendatang. Pemimpin mereka, Shafiqur Rahman, yang sebelumnya dianggap 'tak tersentuh' oleh banyak pihak internasional, kini justru menjadi magnet bagi para diplomat asing dan kalangan elit bisnis Bangladesh. Mereka berlomba-lomba menjalin pertemuan dengan Rahman, sebuah pemandangan yang tak terbayangkan setahun lalu.
Fenomena ini bermula dari kekosongan politik mendalam yang terjadi setelah pemberontakan Juli 2024 yang menggulingkan pemerintahan Perdana Menteri Sheikh Hasina. Kejatuhan Hasina tak hanya mengakhiri kekuasaannya yang panjang, tetapi juga meruntuhkan duopoli politik tradisional Bangladesh antara Liga Awami dan Partai Nasionalis Bangladesh (BNP). Dengan Liga Awami yang praktis tersingkir dari arena politik dan BNP menjadi satu-satunya partai besar yang tersisa, celah kekuasaan pun terbuka lebar. Banyak yang awalnya menduga Partai Warga Nasional (NCP) yang dipimpin mahasiswa akan mengisi ruang tersebut. Namun, tak disangka, Jamaat-e-Islami yang selama ini terpinggirkan justru berhasil bergerak cepat menguasai panggung.
Rahman baru-baru ini meluncurkan manifesto pemilu yang ambisius di Dhaka. Salah satu janji utamanya adalah menggandakan produk domestik bruto (PDB) Bangladesh hingga empat kali lipat menjadi $2 triliun pada tahun 2040, jika partainya memenangkan pemilu. Ekonom di Dhaka memang meragukan realistisnya janji-janji tersebut, menyebut manifesto ini penuh slogan tapi minim detail. Namun, bagi pimpinan Jamaat, manifesto ini lebih dari sekadar hitungan fiskal; ini adalah sinyal tegas niat politik mereka.
Selama bertahun-tahun, kritikus mencitrakan Jamaat sebagai partai yang terlalu didominasi doktrin agama sehingga dianggap tidak cocok memimpin populasi muda, beragam, dan berpikiran maju seperti Bangladesh. Namun, dengan manifesto barunya, partai ini berupaya menampilkan diri sebagai alternatif kredibel yang melihat harmoni antara fondasi religiusnya dan masa depan modern yang diidamkan masyarakat Bangladesh. Kebangkitan Jamaat ini tentu menimbulkan pertanyaan besar tentang arah masa depan Bangladesh, apakah akan bergerak menuju polarisasi lebih lanjut atau mampu menciptakan stabilitas politik baru di tengah ketidakpastian. Ini adalah babak baru yang penuh intrik dan potensi perubahan besar bagi negara Asia Selatan tersebut.