Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengklaim bahwa "banyak negara" sudah menyatakan siap bergabung dalam koalisi angkatan laut internasional yang ia gagas untuk mengamankan Selat Hormuz. Namun, di tengah klaim tersebut, ia menolak menyebutkan negara mana saja yang dimaksud, memicu spekulasi dan keraguan.
Pernyataan Trump ini disampaikan pada Senin waktu setempat, menyusul seruannya di akhir pekan agar beberapa negara besar, termasuk Tiongkok, Prancis, Jepang, Korea Selatan, dan Inggris, serta seluruh anggota NATO, ikut serta. Tujuannya jelas: menjaga kelancaran jalur perdagangan vital tersebut di tengah meningkatnya ketegangan dan serangan terhadap kapal tanker yang dituding didalangi Iran.
Situasi di Selat Hormuz memang genting. Sekitar 20 hingga 30 persen konsumsi minyak global melewati jalur sempit ini. Sejak adanya serangan berulang, harga minyak dunia sudah melonjak tajam hingga 40-50 persen. Trump berargumen AS lebih terlindungi dari dampak ini, namun para ekonom memperingatkan bahwa imbasnya akan terasa di seluruh dunia.
Ironisnya, di saat Trump mengklaim banyak negara "sedang dalam perjalanan" untuk bergabung, kenyataan di lapangan justru sebaliknya. Sejumlah negara terang-terangan menolak mengirimkan kapal militernya, seperti Australia, Jepang, Polandia, Swedia, dan Spanyol. Jerman, melalui Menteri Pertahanannya Boris Pistorius, menegaskan tidak akan ada partisipasi militer, meski terbuka untuk upaya diplomatik. Sementara itu, Korea Selatan dan Inggris masih "meninjau situasi," dengan Inggris bahkan hanya mempertimbangkan pengiriman drone penyapu ranjau, menekankan tidak akan terseret dalam "perang yang lebih luas." Prancis pun menunjukkan sedikit minat bantuan yang terbatas.
Kondisi ini membuat klaim Trump terkesan hampa tanpa bukti konkret. Ia bahkan tidak segan-segan mengkritik negara-negara sekutu yang tidak antusias, terutama mereka yang telah "dilindungi AS selama bertahun-tahun" dan memiliki puluhan ribu tentara Amerika di wilayahnya. Kritikan ini mengindikasikan frustrasi Trump terhadap kurangnya dukungan nyata dari sekutunya dalam menghadapi krisis di Selat Hormuz.
Dengan demikian, meskipun Trump berusaha membangun kesan adanya dukungan besar, fakta menunjukkan bahwa banyak negara masih enggan atau sangat berhati-hati untuk terlibat dalam koalisi militer ini. Ketidakjelasan siapa saja yang benar-benar siap berlayar ke Hormuz ini tentu akan jadi sorotan utama. Apakah klaim Trump hanya strategi untuk menekan sekutunya atau memang ada kekuatan tersembunyi yang siap bergerak? Kita tunggu saja pengumuman resmi dari Menlu AS Marco Rubio yang dijanjikan Trump.