Kabar mengejutkan datang dari ranah sepak bola Eropa. UEFA menjatuhkan sanksi sementara satu pertandingan kepada pemain muda Benfica, Gianluca Prestianni. Keputusan ini menyusul tuduhan serius bahwa Prestianni melakukan pelecehan rasial terhadap bintang Real Madrid, Vinicius Junior, dalam laga sengit Liga Champions pekan lalu.
Insiden yang memicu sanksi ini terjadi saat leg pertama playoff Liga Champions di Lisbon, Selasa (16/1) lalu. Vinicius Junior, yang berhasil mencetak gol kemenangan 1-0 untuk Real Madrid, merayakan golnya di dekat bendera pojok lapangan. Aksi selebrasi ini ternyata memicu kemarahan fans dan beberapa pemain Benfica. Di tengah keributan, Prestianni kedapatan mendekati Vinicius dan menutupi mulutnya dengan jersey saat berbicara. Vinicius lantas menuduh pemain asal Argentina itu memanggilnya "monyet."
Meskipun Prestianni membantah keras tuduhan tersebut, dan protokol anti-rasisme sempat diaktifkan namun tidak ada tindakan lebih lanjut di lapangan karena kurangnya bukti, UEFA tetap bergerak. Badan Kontrol, Etika, dan Disipliner (CEDB) UEFA memutuskan untuk menjatuhkan skorsing sementara satu pertandingan kepada Prestianni dengan alasan "perilaku diskriminatif." Sanksi ini membuat Prestianni dipastikan absen dalam leg kedua di Bernabeu pada Rabu (24/1).
Kasus ini bukan kali pertama Vinicius Junior menjadi sasaran rasisme. Bintang asal Brasil itu memang kerap kali menjadi korban pelecehan rasial di lapangan, mencerminkan masalah akut yang masih menggerogoti dunia sepak bola. Presiden FIFA, Gianni Infantino, bahkan turut prihatin dan terkejut mendengar insiden tersebut, sembari memuji wasit yang mengaktifkan protokol anti-rasisme.
Di sisi lain, Benfica menyatakan dukungan penuh untuk Prestianni. Klub Portugal itu menyebut para pemain Real Madrid yang mengaku mendengar hinaan rasis terlalu jauh dari lokasi kejadian, sehingga kesaksian mereka diragukan. Benfica juga menegaskan bahwa Prestianni selalu menunjukkan perilaku yang menjunjung tinggi rasa hormat selama berseragam klub.
Namun, dukungan untuk Vinicius juga tak kalah kuat. Rekan setimnya, Kylian Mbappe, secara terbuka membela Vinicius melalui media sosial, menyuarakan agar sang bintang Madrid terus menari dan tak pernah berhenti. Mbappe bahkan sempat berujar Prestianni tak seharusnya lagi bermain di Liga Champions.
Sanksi sementara UEFA ini menjadi sinyal jelas bahwa otoritas sepak bola Eropa tidak akan tinggal diam terhadap isu rasisme. Meskipun masih bersifat investigasi, keputusan ini diharapkan bisa mengirimkan pesan kuat tentang komitmen memerangi diskriminasi di lapangan hijau. Kini, publik menanti kelanjutan penyelidikan UEFA dan bagaimana kasus ini akan memengaruhi kampanye anti-rasisme di masa mendatang.