Awal bulan suci Ramadan seharusnya membawa kedamaian, namun insiden di pos pemeriksaan Qalandiya, Palestina, justru memantik pertanyaan serius. Pada Jumat pertama Ramadan, pasukan Israel kembali menjadi sorotan setelah terang-terangan menghalangi sejumlah tim media, termasuk jurnalis senior Al Jazeera, Nour Odeh, dan jaringan televisi lainnya.
Para wartawan ini sedang bertugas meliput momen krusial: ribuan warga Palestina yang berupaya menuju Masjid Al-Aqsa di Yerusalem untuk menunaikan salat Jumat pertama di bulan puasa. Siaran langsung Nour Odeh bahkan terpaksa terputus akibat tindakan penghalangan tersebut. Kejadian ini bukan sekadar gangguan teknis, melainkan pembatasan akses informasi yang patut disayangkan.
Insiden semacam ini bukan kali pertama terjadi, memperpanjang daftar panjang pembatasan liputan media di wilayah konflik. Tindakan pasukan Israel dianggap sebagai upaya nyata untuk membungkam kebebasan pers dan menghalangi masyarakat dunia untuk mendapatkan gambaran utuh mengenai situasi di lapangan, terutama terkait pembatasan akses ke tempat ibadah suci. Di tengah ketegangan yang memang sudah tinggi, terutama selama Ramadan, penghalangan liputan ini hanya akan menambah bara di tengah sensitivitas isu agama dan politik. Ini menjadi pengingat penting akan tantangan berat yang dihadapi jurnalis dalam menyampaikan kebenaran di zona konflik.