RIBUAN WARGA BELFAST TOLAK KEKERASAN RASIS - Berita Dunia
← Kembali

RIBUAN WARGA BELFAST TOLAK KEKERASAN RASIS

Foto Berita

Belfast, Irlandia Utara – Ribuan warga Belfast turun ke jalan pada Sabtu (10/8) untuk menggelar aksi unjuk rasa menentang gelombang kekerasan rasis yang dipicu oleh insiden penusukan beberapa hari sebelumnya. Aksi ini digelar di depan Balai Kota Belfast, serta di Londonderry atau yang akrab disebut Derry, sebagai bentuk solidaritas terhadap imigran dan minoritas.

Para demonstran membawa spanduk bertuliskan 'Kebencian adalah satu-satunya ancaman di jalan kita' dan 'Belfast berdiri menentang rasisme'. Hilary Hunter (63), salah satu peserta aksi, mengaku 'jijik' dengan aksi perusuh anti-imigran yang merusak citra kota. 'Kami di sini untuk menunjukkan bahwa mereka tidak mewakili suara kami,' tegasnya kepada AFP.

Kerusuhan terjadi setelah video penusukan brutal terhadap Stephen Ogilvie oleh warga Sudan, Hadi Alodid, viral di media sosial. Alodid kini telah didakwa atas percobaan pembunuhan. Namun, aksi solidaritas ini justru membalikkan narasi kebencian menjadi pesan persatuan. Direktur Amnesty International Inggris untuk Irlandia Utara, Patrick Corrigan, menyebut aksi ini sebagai demonstrasi anti-rasisme terbesar yang pernah terjadi di Belfast.

Corrigan mengkritik lambannya respons otoritas setempat. 'Ini adalah musim panas ketiga berturut-turut kita menyaksikan kekerasan rasis. Pemerintah tidak cukup siap,' ujarnya. Ia juga mendesak Perdana Menteri Inggris Keir Starmer untuk memberikan kepemimpinan politik yang lebih nyata, bukan sekadar kecaman verbal. Sementara itu, Menteri Urusan Irlandia Utara Hilary Benn mengutuk aksi preman bertopeng yang mengintimidasi warga berdasarkan warna kulit, bahkan menghentikan mobil di jalan untuk menanyakan kewarganegaraan.

Analisis Dampak: Aksi ini menjadi tamparan keras bagi kelompok rasis dan sinyal kuat bahwa mayoritas warga Belfast menolak politik kebencian. Namun, kekhawatiran masih membayangi karena kegagalan aparat mengantisipasi kekerasan berulang. Jika tidak ada perubahan kebijakan imigrasi yang tegas dan perlindungan hukum bagi minoritas, ketegangan sosial berpotensi meletus lagi. Ini menjadi pelajaran bagi negara lain bahwa ujaran kebencian di media sosial bisa memicu kerusuhan nyata jika tidak segera direspons dengan aksi nyata, bukan sekadar kecaman.


Bagikan berita ini:

WhatsApp Facebook