Rudal dan drone Rusia kembali menghantam ibu kota Ukraina, Kiev, pada Senin, 23 Februari. Serangan intens ini terjadi hanya beberapa hari menjelang peringatan setahun invasi skala penuh Rusia ke Ukraina, yang kini telah bergulir selama 1.460 hari.
Serangan masif ini bukanlah gertakan semata. Pembombardiran jantung Ukraina menjelang momen penting seperti peringatan invasi, jelas merupakan pesan kuat dari Kremlin. Analis menilai, Rusia ingin menunjukkan dominasinya, menabur teror di kalangan warga sipil, sekaligus menguji pertahanan udara Ukraina yang telah diperkuat bantuan Barat. Ada juga kemungkinan serangan ini menjadi balasan atas operasi Ukraina di wilayah yang dikuasai Rusia.
Bagi warga Kiev, serangan semacam ini berarti hidup dalam bayang-bayang ketakutan dan kehancuran. Infrastruktur vital terancam, aktivitas sehari-hari lumpuh, dan trauma perang terus menghantui. Lebih dari itu, serangan masif di ibu kota mengirimkan sinyal global bahwa konflik ini, meski sudah berjalan lama, masih jauh dari kata damai dan potensi eskalasi selalu ada. Berbagai laporan media lain kerap menyoroti bagaimana momen peringatan invasi seringkali dimanfaatkan kedua belah pihak untuk meningkatkan intensitas pertempuran, entah itu sebagai unjuk kekuatan atau untuk mendapatkan posisi tawar yang lebih baik.