Perdana Menteri Lebanon, Nawaf Salam, melontarkan tudingan mengejutkan. Ia menyebut Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) sebagai pengendali utama operasi militer kelompok Hezbollah di Lebanon melawan Israel. Tuduhan ini bukan isapan jempol semata, para analis dan laporan intelijen turut mengamini, menunjukkan peran sentral Teheran dalam gejolak yang kian memanas di Timur Tengah.
Dalam wawancara dengan stasiun televisi Arab Saudi al-Hadath, Salam tegas mengatakan bahwa IRGCācabang militer Iran yang langsung bertanggung jawab kepada Pemimpin Tertinggi negara ituāmengatur strategi dan mengarahkan Hezbollah. Bukan cuma di perbatasan Lebanon-Israel, IRGC juga dituding terlibat dalam peluncuran drone dari Lebanon menuju Siprus, menargetkan pangkalan Angkatan Udara Inggris. Bahkan, pejabat IRGC disebut-sebut masuk ke Lebanon dengan paspor palsu untuk mengelola operasi ini.
Klaim ini muncul di tengah hubungan Hezbollah dan pemerintah Lebanon yang berada di titik terendah dalam beberapa tahun terakhir. Meski demikian, para ahli percaya bahwa ketegangan internal ini tidak mengurangi kebenaran analisis sang Perdana Menteri. Sejak awal Maret, serangan Israel ke Lebanon telah merenggut nyawa lebih dari 1.000 orang dan membuat setidaknya 1,2 juta jiwa terpaksa mengungsiājumlah yang mencapai lebih dari 20 persen populasi Lebanon. Para peneliti Human Rights Watch bahkan menyebut pengungsian massal ini bisa masuk kategori kejahatan perang.
Pemerintah Lebanon, yang sejak awal sudah berupaya melucuti kekuatan militer Hezbollah, merespons dengan melarang aktivitas militer kelompok tersebut dan meminta beberapa warga Iran yang diduga terkait IRGC untuk angkat kaki. Namun, langkah ini tak banyak berdampak di lapangan. Hezbollah tetap melanjutkan perlawanan terhadap Israel, termasuk terlibat pertempuran darat di Lebanon selatan, yang diyakini PM Salam diatur oleh IRGC. Sebelumnya, Hezbollah membalas dengan menembakkan enam roket pada 2 Maret, mengklaim itu sebagai respons terhadap agresi Israel yang telah berlangsung lebih dari setahun dan menewaskan ratusan orang.
Hubungan antara IRGC dan Hezbollah memang sudah terjalin sejak lama. Hezbollah didirikan pada 1982, tiga tahun setelah revolusi Islam di Iran, dengan koordinasi langsung dari IRGC. Sejak itu, Iran menjadi penyokong dana dan pembimbing spiritual utama bagi kelompok Syiah tersebut. Intervensi IRGC yang begitu mendalam ini bukan hanya mengikis kedaulatan Lebanon, tetapi juga memperpanjang penderitaan rakyat sipil di tengah pusaran konflik regional yang kompleks, yang nampak sulit dihentikan oleh pemerintah Lebanon sendiri.