Pejabat tinggi keamanan Iran, Ali Larijani, membuat klaim mengejutkan: ada kemajuan signifikan menuju pembentukan kerangka negosiasi dengan Amerika Serikat. Namun, kabar ini justru muncul di tengah memanasnya ketegangan militer di kawasan Teluk, memicu pertanyaan besar: apakah dialog atau konfrontasi yang akan terjadi?
Larijani, yang menjabat Kepala Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, mengunggah di media sosial bahwa, "berbeda dengan suasana perang media artifisial, pembentukan struktur negosiasi sedang berkembang." Sayangnya, ia tidak memberikan rincian lebih lanjut mengenai kerangka pembicaraan yang disebutnya itu.
Klaim ini hadir di tengah minggu-minggu penuh gejolak antara kedua negara. Presiden AS Donald Trump berulang kali mengancam akan menyerang Iran menyusul tindakan keras terhadap protes anti-pemerintah dan desakan Washington untuk mengekang program nuklir Iran. Sebagai respons, AS juga telah mengerahkan "armada" angkatan laut besar, termasuk kapal induk USS Abraham Lincoln, ke Teluk, meningkatkan kekhawatiran akan potensi konfrontasi militer.
Para pemimpin senior Iran menegaskan mereka terbuka untuk negosiasi, tetapi hanya jika Trump menghentikan ancaman. Di sisi lain, Komando Pusat AS (CENTCOM) mengeluarkan peringatan kepada Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) terkait rencana latihan angkatan laut dua hari di Selat Hormuz, jalur maritim vital yang krusial bagi perdagangan global. Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, membalas dengan keras. Ia menuduh militer AS yang beroperasi di lepas pantai Iran "mencoba mendikte" bagaimana angkatan bersenjata Iran harus berlatih di wilayahnya sendiri. Araghchi juga menyoroti ironi AS yang meminta "profesionalisme" dari IRGC, padahal Washington sendiri telah melabeli pasukan elit itu sebagai "organisasi teroris" sejak 2019.
Kondisi ini, yang digambarkan sejumlah pihak sebagai "rapuh dan sensitif," memiliki implikasi serius. Setiap eskalasi di Selat Hormuz dapat mengganggu pasokan minyak global dan stabilitas ekonomi dunia, mengingat perairan ini adalah urat nadi perdagangan internasional. Klaim Iran tentang kemajuan negosiasi, terlepas dari ketidakjelasannya, bisa menjadi secercah sinyal positif di tengah riuhnya ancaman. Ini menunjukkan bahwa jalan diplomasi mungkin masih terbuka di balik layar, namun kehadiran militer AS yang masif dan retorika yang kian tajam tetap menjadi bayang-bayang kelabu atas masa depan hubungan kedua negara.