DERITA PENGUNGSI SUDAN: RAMADAN SURAM, NYAWA TERANCAM KELAPARAN - Berita Dunia
← Kembali

DERITA PENGUNGSI SUDAN: RAMADAN SURAM, NYAWA TERANCAM KELAPARAN

Foto Berita

Di tengah konflik berlarut-larut di Sudan, ribuan pengungsi dari El-Fasher yang mencari keamanan di kamp Al-Sarraf, negara bagian Al-Gedaref, kini menghadapi kenyataan pahit. Bulan Ramadan yang seharusnya penuh kebersamaan dan sukacita, justru berubah menjadi perjuangan berat melawan kelaparan, penyakit, dan minimnya kebutuhan dasar. Mereka yang telah menempuh ribuan kilometer demi selamat dari perang, kini terancam oleh krisis kemanusiaan yang akut di tempat pengungsian.

Pengungsi di kamp Al-Sarraf hidup dalam kondisi serba kekurangan. Banyak keluarga, seperti Sanaa Ahmed, Majd Abdullah, dan Sumaya Saleh, tiba tanpa membawa apa-apa. Mereka mengaku kesulitan mendapatkan makanan yang layak dan cukup, bahkan untuk sekadar berbuka puasa. Peralatan masak seperti panci dan gelas pun menjadi barang mewah. Laporan menyebutkan, bantuan yang masuk seringkali sangat tidak memadai, contohnya hanya semangkuk bubur untuk keluarga dengan tujuh hingga sepuluh anggota.

Selain pangan, akses terhadap obat-obatan juga hampir nihil. Banyak lansia dan pengungsi dewasa yang menderita penyakit kronis seperti diabetes dan tekanan darah tinggi tidak bisa mendapatkan perawatan medis. Mawaheb Ibrahim, seorang penderita diabetes yang kehilangan keluarganya akibat konflik, kini berjuang merawat anak-anak yatim piatu tanpa sumber daya, dan kondisi kesehatannya sendiri makin memburuk tanpa akses dokter. Sanitasi di kamp juga memburuk, menambah daftar panjang masalah yang dihadapi para pengungsi. Untuk bertahan hidup, banyak ibu terpaksa mencari pekerjaan serabutan di kota terdekat, seperti mencuci atau menyetrika pakaian.

Konflik di Sudan, khususnya di El-Fasher, telah memicu gelombang pengungsian masif. PBB bahkan melaporkan bahwa kekejaman yang dilakukan Pasukan Dukungan Cepat (RSF) di El-Fasher memiliki ciri-ciri genosida. Kondisi di kamp Al-Sarraf ini bukan sekadar cerita pribadi, melainkan gambaran nyata dari krisis kemanusiaan yang lebih luas di Sudan. Jutaan orang terpaksa mengungsi, dan bantuan kemanusiaan sering terhambat atau tidak mencukupi, memperburuk penderitaan warga sipil yang tidak bersalah. Situasi ini menunjukkan kegagalan sistematis dalam memberikan perlindungan dan bantuan dasar bagi mereka yang paling rentan. Jika tidak ada intervensi besar dan koordinasi yang lebih baik dari komunitas internasional, krisis ini berpotensi merenggut lebih banyak nyawa dan menciptakan generasi yang traumatis serta kehilangan masa depan.


Bagikan berita ini:

WhatsApp Facebook