BEIRUT — Israel kembali memperluas serangan militernya di Lebanon selatan. Kali ini, situs-situs warisan budaya berusia ribuan tahun ikut menjadi korban. Benteng Beaufort, peninggalan Perang Salib berusia 900 tahun, berhasil direbut pasukan Israel pada Sabtu lalu setelah pertempuran sengit.
Benteng yang berdiri di atas bukit berbatu dekat kota Nabatieh itu bukan satu-satunya yang terancam. Menteri Kebudayaan Lebanon, Ghassan Salame, mengatakan bahwa Kota Tua Tirus, salah satu Situs Warisan Dunia UNESCO, juga berada dalam 'bahaya serius'. Kota kuno yang menjadi pusat peradaban Fenisia, Yunani, dan Romawi itu kini berada di jalur operasi militer Israel.
Serangan ini memicu kekhawatiran besar. UNESCO sendiri memberikan status perlindungan tertinggi pada 39 situs budaya di Lebanon. Aturan internasional di bawah Konvensi Den Haag 1954 melarang keras perusakan situs warisan budaya. Pelanggaran terhadap aturan ini bisa berujung pada tanggung jawab pidana.
Direktur Kebudayaan UNESCO, Lazare Eloundou Assomo, menegaskan bahwa penghancuran warisan budaya bukan sekadar kerusakan fisik. 'Ketika warisan hancur, standar moral runtuh, kohesi sosial terkikis, dan kepercayaan masyarakat lenyap,' ujarnya.
Dampak kemanusiaan juga tak kalah parah. Lebih dari satu juta warga Lebanon terpaksa mengungsi. Sekitar 200.000 orang di antaranya berasal dari Tirus dan sekitarnya. Perang ini menjadi invasi terdalam Israel ke Lebanon dalam 26 tahun terakhir, dengan pasukan darat sudah melintasi Sungai Litani hingga mendekati Sungai Zahrani.