Serangan drone yang diduga berasal dari Sudan telah menewaskan 17 orang di kota perbatasan Tine, Chad. Insiden memilukan ini terjadi pada Rabu lalu saat warga berkumpul untuk pemakaman, menewaskan para pelayat dan anak-anak yang bermain di dekatnya. Pemerintah Chad langsung bersumpah akan membalas setiap serangan lanjutan, menandakan potensi eskalasi konflik di perbatasan kedua negara.
Peristiwa tragis ini memicu rapat darurat Dewan Pertahanan dan Keamanan Chad yang dipimpin Presiden Mahamat Idriss Deby. Ia memerintahkan militer untuk merespons tegas setiap agresi dari Sudan mulai malam itu juga. Meski belum jelas siapa dalang di balik serangan yang dilaporkan terjadi dalam dua ledakan itu, Pasukan Dukungan Cepat (RSF) Sudan, salah satu pihak berperang di Sudan, membantah keterlibatan dan justru menuding Tentara Sudan.
Serangan di Tine tak bisa dilepaskan dari konflik sipil berkepanjangan di Sudan yang telah berlangsung sejak April 2023 antara militer dan RSF. Perang brutal ini sudah menelan puluhan ribu korban jiwa dan membuat lebih dari 12 juta orang mengungsi, dengan hampir satu juta di antaranya mencari perlindungan ke Chad. Perbatasan sepanjang hampir 1.400 km yang membentang di wilayah gurun ini memang sangat rentan dan sulit dikontrol.
Kondisi semakin runyam mengingat sebagian besar wilayah Darfur di Sudan barat yang berbatasan langsung dengan Chad, kini dikuasai RSF, termasuk kota kunci El-Fasher. PBB bahkan menuduh RSF melakukan pembantaian massal yang terindikasi genosida di Darfur. Chad sendiri sebelumnya sudah menutup perbatasan timurnya bulan lalu setelah bentrokan terkait perang Sudan menewaskan lima prajurit Chad, sebagai upaya mencegah meluasnya konflik.
Kini, serangan drone ini meningkatkan kekhawatiran serius akan penyebaran perang dan instabilitas regional. Drone sendiri telah menjadi senjata utama kedua belah pihak di Sudan, dengan laporan adanya dukungan asing seperti Iran, Turki, dan Rusia untuk militer Sudan, serta dugaan pasokan untuk RSF melalui jaringan rute dari negara-negara transit seperti Uni Emirat Arab (meski dibantah Abu Dhabi). Insiden di Tine menjadi pengingat pahit bahwa konflik di Sudan bukan lagi masalah internal, melainkan ancaman nyata bagi stabilitas kawasan, dengan korban sipil terus berjatuhan dan risiko eskalasi yang semakin nyata.