Tiga minggu pasca-operasi militer Amerika Serikat di tanah Venezuela yang mengejutkan dunia, tabir misteri masih menyelimuti langkah Washington selanjutnya. Operasi yang disebut banyak pihak sebagai pelanggaran hukum internasional dan berujung pada penahanan Presiden Nicolas Maduro di New York itu, kini memasuki babak baru dengan strategi AS yang tampak lebih fokus pada satu hal: minyak.
Maduro kini mendekam di penjara AS, menanti persidangan atas tuduhan perdagangan narkoba dan konspirasi "narkoterorisme". Namun, di balik ketenangan semu yang menyelimuti Venezuela, ketegangan mendalam justru terasa. Armada militer AS masih siaga di lepas pantai, blokade tanker minyak sanksi tetap berlaku, dan ancaman serangan terhadap kapal penyelundup narkoba di Karibia, bahkan operasi darat di masa depan, tidak dikesampingkan.
Menurut Francesca Emanuele dari Center for Economic and Policy Research, apa yang kita lihat ini bukanlah strategi AS yang utuh, melainkan proses yang terus berkembang. Presiden Donald Trump, yang sebelumnya sempat berjanji akan "menjalankan" Venezuela, kini tampak mengesampingkan keterlibatan oposisi tradisional seperti Maria Corina Machado. Ia justru berkoordinasi langsung dengan "Presiden Sementara" Delcy Rodriguez, mantan deputi Maduro, bahkan mengirim direktur CIA ke Caracas.
Langkah awal pemerintahan Trump jelas menggarisbawahi akses AS terhadap minyak Venezuela. Begum Zorlu, peneliti dari City, University of London, menyebut ini sebagai "mekanisme kontrol" yang dibangun di atas ketakutan: sanksi, daya tawar minyak, dan ancaman kekuatan militer. "Yang muncul bukanlah tata kelola, melainkan strategi pemaksaan jarak jauh, memaksa kepemimpinan pasca-Maduro untuk mematuhi tuntutan AS, terutama terkait akses minyak," jelasnya. Situasi ini digambarkan Emanuele, "Pemerintah Venezuela beroperasi dengan todongan senjata, dan itu tak bisa diabaikan dari analisis serius mana pun."
Sejalan dengan strategi ini, Washington dan Caracas telah mengumumkan rencana ekspor minyak mentah senilai hingga $2 miliar yang tertahan di pelabuhan Venezuela. Langkah ini, bersama dengan ancaman dan tekanan yang terus-menerus, menunjukkan bahwa bagi Amerika Serikat, kepentingan geopolitik dan ekonomi—terutama cadangan minyak—adalah inti dari pergerakan mereka di Venezuela. Dampaknya bagi masyarakat Venezuela adalah ketidakpastian yang berkelanjutan, dengan masa depan negara yang kini seolah ditentukan oleh tarik ulur kepentingan besar antara kekuatan global dan sumber daya alam.