Gempuran Israel di Gaza kembali memakan korban jiwa. Otoritas Palestina melalui kantor berita Wafa melaporkan, serangan pesawat nirawak (drone) Israel pada Jumat pagi menewaskan seorang wanita muda dan melukai sedikitnya 15 orang lainnya di wilayah Khan Younis, Gaza selatan. Insiden ini terjadi di tengah gencatan senjata yang secara teknis masih berlaku sejak Oktober lalu.
Belum reda, serangan lanjutan di dekat Kota Gaza pada hari yang sama juga melukai seorang anak-anak. Jurnalis Al Jazeera, Hani Mahmoud, yang melaporkan langsung dari Gaza, menyebut serangan ini menciptakan 'kenyataan kelam' bagi warga Palestina. Mereka hidup dalam ketakutan dan kebingungan karena gencatan senjata hanya tinggal nama.
'Kami melihat serangan semalaman, serangan drone, penutupan perbatasan yang menghalangi evakuasi medis dan bantuan kemanusiaan. Semua ini menimbulkan cedera, kematian, pemindahan paksa, dan rasa panik yang meluas,' ujar Hani.
Sehari sebelumnya, setidaknya 11 orang tewas, termasuk lima anggota satu keluarga, dalam serangan Israel di apartemen pemukiman. Militer Israel mengklaim salah satu target yang tewas adalah seorang kombatan yang merencanakan serangan terhadap pasukan mereka. Data Kementerian Kesehatan Gaza mencatat, sejak gencatan senjata 'diatas kertas' diberlakukan, serangan Israel telah menewaskan 947 orang dan melukai 2.935 lainnya.
Di tengah eskalasi ini, Hamas mengirimkan perwakilannya ke Kairo untuk bertemu mediator Mesir. Mereka mendesak penghentian serangan Israel dan negosiasi fase kedua gencatan senjata yang macet. Fase kedua seharusnya membahas perlucutan senjata Hamas dan penarikan bertahap militer Israel, namun hingga kini tidak ada kemajuan. Hamas menegaskan tidak akan menyerahkan senjata sekarang, tetapi berkomitmen pada kepolisian Palestina di masa depan.