Di tengah dentuman bom dan gempuran serangan udara dari Amerika Serikat serta Israel, warga Iran tetap merayakan Nowruz, Tahun Baru Persia. Ini adalah kali pertama sejak perang Iran-Irak tahun 1980-an, rakyat Iran menyambut pergantian tahun dalam suasana genting. Meski ancaman terus membayangi, semangat baru tak luntur, meskipun ada juga kabar penting yang menyelimuti perayaan ini.
Jelang puncaknya pada Jumat sore, saat momen equinox musim semi yang melambangkan awal baru, ribuan warga berbondong-bondong memadati pasar dan toko di Teheran serta berbagai kota lain. Mereka berburu bunga, menyiapkan hidangan, dan berkumpul bersama keluarga di rumah, seolah tak peduli dengan rentetan serangan udara yang terjadi sepanjang malam dan sesekali siang hari.
Momen pergantian tahun juga diwarnai dengan pemandangan unik. Beberapa sistem pertahanan udara Teheran terlihat menyala selama beberapa menit, seolah ikut merayakan. Namun, di sisi lain, sebagian warga justru menyuarakan protes dengan lantang meneriakkan 'Matilah Diktator' dari jendela atau atap rumah mereka, menunjukkan ketegangan internal di tengah ancaman eksternal.
Seorang warga Teheran, Ghazal, yang merayakan Nowruz bersama suami dan dua anaknya, mengungkapkan perasaannya. 'Kami memang banyak di rumah saja, tapi Nowruz tetaplah waktu yang penuh berkah, terlepas dari bom dan rudal. Masih banyak harapan tahun ini, meski perang juga bikin khawatir masa depan anak-anak dan negara,' ujarnya kepada media. Warga lain juga menyebut Teheran terasa lebih ramai belakangan ini, setelah sempat sepi di awal perang tiga minggu lalu, saat sebagian penduduk memilih mengungsi sementara.
Meski jalanan sempat macet karena hujan sore hari, kota itu masih jauh dari hiruk pikuk normal, mengingat jet tempur dan drone masih sesekali melintas di langit. Pemerintah mengklaim tidak ada kelangkaan bahan bakar, meskipun depo minyak sempat dibom, dan pasokan darah di fasilitas kesehatan juga aman berkat donasi rutin warga.
Namun, di balik semua itu, ada satu 'serangan' lain yang tak kalah memprihatinkan: pemadaman internet nyaris total oleh pemerintah. Selama 21 hari terakhir, lebih dari 92 juta warga Iran terisolasi dari dunia luar. Mereka hanya bisa mengakses intranet terbatas, sementara konektivitas global hanya bisa didapatkan lewat pasar gelap yang mahal. Menurut laporan NetBlocks, konektivitas internet di Iran saat ini kurang dari 1 persen dari level normal. Ini bukan sekadar gangguan teknis, melainkan upaya keras untuk mengontrol informasi dan menyembunyikan realitas dari mata dunia, di saat rakyatnya membutuhkan akses informasi yang akurat lebih dari sebelumnya.