Mantan Presiden AS Donald Trump kembali bikin geger dengan ancaman keras terhadap Iran. Ia menyatakan bakal terus 'menggempur Iran hingga lenyap' jika Selat Hormuz tidak segera dibuka. Pernyataan ini muncul setelah klaim Trump soal permintaan gencatan senjata dari 'rezim baru' Iran, yang langsung dibantah tegas oleh Teheran.
Klaim Trump yang diunggah di platform Truth Social miliknya pada Rabu (waktu AS) itu menuai bantahan keras dari pejabat senior Iran. Mereka menolak mentah-mentah tuduhan bahwa Iran telah meminta gencatan senjata dengan Amerika Serikat, menegaskan bahwa itu adalah narasi sepihak dari Trump.
Dalam unggahannya, Trump juga tak tanggung-tanggung mengancam: "sampai Selat Hormuz terbuka, bebas, dan jelas... kami akan menggempur Iran hingga lenyap, atau seperti yang mereka katakan, kembali ke Zaman Batu!!!" Ancaman ini datang hanya beberapa jam sebelum Trump dijadwalkan menyampaikan pidato penting mengenai Iran di Washington, D.C.
Pernyataan bernada keras ini bukan tanpa konteks. Administrasi Trump menghadapi tekanan besar terkait 'perang' antara AS-Israel melawan Iran, terutama di tengah melonjaknya harga energi global dan penolakan luas dari publik AS terhadap konflik tersebut. Sebelumnya, Trump sempat mengatakan bahwa harga minyak akan "turun drastis" jika AS mengakhiri perang dalam dua hingga tiga minggu ke depan. Namun, ancaman terbarunya soal "menghancurkan Iran" ini justru menimbulkan pertanyaan besar tentang kapan konflik ini akan benar-benar berakhir.
Selat Hormuz, jalur air strategis di Teluk, adalah urat nadi ekonomi global. Sekitar seperlima pasokan minyak dan gas alam cair dunia melintasi selat ini. Penutupannya, akibat konflik, telah memicu kekhawatiran serius akan kemerosotan ekonomi global.
Mohamad Elmasry, seorang profesor dari Doha Institute for Graduate Studies, mengamati bahwa retorika Trump sangat kontradiktif. "Kemarin dia bilang mau membombardir Iran kembali ke Zaman Batu, sekarang dia pakai bahasa yang lebih keras soal 'menggempur hingga lenyap'," ujar Elmasry kepada Al Jazeera. Ia menyoroti betapa berbahayanya bahasa seperti itu, mengingat AS dan Israel disebut telah menyerang ratusan sekolah dan rumah sakit, serta ribuan rumah warga di Iran, menggunakan bom 900 kg yang "menghancurkan seluruh blok kota." Ini jelas bukan "operasi presisi" melainkan serangan yang merusak banyak infrastruktur sipil.
Dari Gedung Putih, Al Jazeera juga melaporkan bahwa sumber-sumber menyebutkan Trump kemungkinan tidak akan mengumumkan berakhirnya perang dalam pidatonya malam itu, meski publik berharap demikian. Ini menyiratkan bahwa konflik masih akan berlanjut dengan segala dampaknya.