FIFA, Austin, Texas - Sebuah gestur tangan yang dilakukan oleh asisten wasit video (VAR) Shaun Evans memicu kontroversi di tengah gelaran Piala Dunia. Kejadian ini terjadi saat jeda pertandingan antara Jerman melawan Curacao, di mana kamera menyorot ruang VAR di Dallas.
Evans terlihat membentuk simbol 'OK' terbalik dengan jari-jarinya. Gestur ini memiliki dua arti yang sangat berbeda: satu tidak berbahaya, dan satu lagi dikaitkan dengan ekspresi supremasi kulit putih. Hal ini langsung menjadi spekulasi besar di media sosial.
FIFA segera melakukan investigasi dan menyatakan tidak menemukan bukti pelanggaran kode disiplin. Evans sendiri membantah keras tuduhan tersebut. Dalam pernyataan resminya, ia mengaku tidak sadar membuat gerakan itu dan menyebutnya sebagai "involuntary, subconscious twitch" atau kejang bawah sadar yang tidak disengaja.
"Cakupan berita setelah kejadian ini sama sekali tidak mencerminkan siapa saya," ujar Evans dalam pernyataan yang dirilis FIFA, dikutip dari BBC. Ia menambahkan bahwa rekaman video dari ruang VAR membuktikan bahwa ia mengulangi gerakan yang sama berkali-kali saat memegang pulpen di antara jari-jarinya.
Analisis: Insiden ini menyoroti betapa sensitifnya simbol-simbol tertentu di era digital. Meskipun FIFA telah membersihkan nama Evans, dampak reputasional sudah terlanjur terjadi. Kejadian ini juga mengubah protokol siaran FIFA; setelah pertandingan kontroversial tersebut, kamera tidak lagi menyorot wajah ofisial VAR secara langsung, melainkan hanya memperlihatkan mereka yang sedang fokus ke monitor. Langkah ini diambil untuk menghindari misinterpretasi gestur di masa depan.