Singapura - Menteri Pertahanan Jepang, Shinjiro Koizumi, dengan tegas membantah tuduhan China bahwa negaranya tengah menerapkan 'militerisme baru'. Dalam pidato penutup di ajang Shangri-La Dialogue di Singapura, ia justru balik menyerang China yang dianggapnya memiliki ekspansi militer masif dan minim transparansi.
Koizumi menyebut persenjataan raksasa China, termasuk hulu ledak nuklir dan bomber strategis, sebagai ancaman serius bagi komunitas internasional. 'Jepang tidak punya senjata seperti itu. Tapi Jepang dicap militerisme baru. Aneh bukan?' ujarnya, Minggu (2/6).
Pernyataan ini merupakan respons paling tajam Tokyo terhadap kecaman Beijing yang sebelumnya menyebut Jepang sebagai 'badak abu-abu yang berlari kencang menuju remiliterisasi'. Data menunjukkan, Jepang telah meningkatkan anggaran pertahanan selama 12 tahun berturut-turut hingga mencapai 9 triliun yen atau sekitar 57 miliar dolar AS. Langkah ini mendekati target pengeluaran militer sebesar 2% dari PDB.
Koizumi berjanji Jepang akan bersikap transparan dan terus berdialog dengan negara-negara Asia, termasuk yang pernah dijajah saat Perang Dunia II. Namun, saat ditanya soal permintaan maaf atas masa lalu perang, ia justru mengelak dan kembali menyoroti ambisi militer China.
Analisis Dampak: Ketegangan ini memperkuat rivalitas dua kekuatan besar Asia. Bagi Indonesia dan negara ASEAN lainnya, situasi ini seperti berjalan di atas tali. Di satu sisi, mereka butuh investasi China, di sisi lain khawatir stabilitas kawasan terganggu jika ketegangan ini memicu perlombaan senjata baru di Indo-Pasifik. Pernyataan Koizumi juga mengirim sinyal bahwa Jepang di bawah PM Sanae Takaichi semakin percaya diri mengangkat suara di panggung global, meninggalkan posisi diplomatik yang biasanya lebih hati-hati.